Jadi Begini Rasanya Kuliah Online

Beberapa waktu lalu, saat pemerintah mengumumkan adanya wabah Covid-19, beberapa lembaga pendidikan mulai menerapkan sistem belajar online. Saat itu, aku merasa kasihan dengan para siswa dan mahasiswa yang terpaksa harus belajar online. Di media sosial ada berita tentang mahasiswa yang sidang skripsi secara online juga. Perasaan kayak aneh trus kasihan trus lucu juga.

Tapi… ternyata eh kok aku harus mengalaminya sendiri juga. Seperti mereka-mereka yang foto dan videonya berseliweran di media sosial. Nggak nyangka banget lho aku juga bakal seperti mereka. Pas awal-awal diinformasikan dari pihak universitas bahwa kami semua nggak ada tutorial tatap muka, hanya kuliah online melalui WA Grup, rasanya tuh… DOENGGG!!! Kok aku harus mengalami ini juga siiiiiihhh????? Stress. Bingung. Kesal. Sedih.

Lalu, pada hari Sabtu, 28 Mret 2020 dimulailah kuliah online. Perdana. Pertamaxz!

Hendpon standby di tangan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba HIV (Hasrat Ingin Vivis) menyerang. Mau nggak mau harus ke toilet dong. Trus mikir, ‘kuliahnya gimana ini? Mana lagi ada bahasan pula?’ Akhirnya, henpon pun dibawa, ikut nongkrong di toilet. Ungtunglah ini kuliah bukan sistem tatap muka yang pakai video call atau sistem teleconference. Haaahh….

Berikutnya, karena nggak mau repot, akhirnya aku nyalakan laptop trus masuk ke whatsapp web. Jreng! Nggak repot lagi pegang henpon dan nyalakan setiap waktu sampai batere sekarat. Di laptop bisa nyala terus WAnya.

Sambil kuliah di grup, teman-teman kuliah juga asyik tukaran info di grup kelas. Sambil ngobrolin yang lain juga. Makin rame jadinya. Dan rupanya….. saat kuliah online ada yang sambil makan. Ada yang sambil rebahan. Ada yang sambil ngopi. Asyik juga nih!

Trus aku ngapain? Ya sama aja, sambil mantengin obrolan di grup dari laptop, beres-beres juga dong. Angkat jemuran. Lipat baju. Bongkar sprei. Ganti sprei. Minum.

Kuliah tetap jalan dong! Saat dosen mengajukan pertanyaan, ya dijawab biar ada nilai partisipasinya. Sambil buka buku kuliah juga pastinya. Namanya juga belajar.

Nah, jadi aku mau kasih tips buat kalian yang kuliah online juga melalui WA Grup:

  1. HP standby begitu jam kuliah mau mulai. Jadi begitu dosen mengabsen melalui obrolan, bisa langsung jawab. Setelah absen, silakan mau sambilan apa.
  2. Kalau memungkinkan, online saja di Whatsapp Web, biar lebih mudah mengetik dan cari bahan seandainya dosen memberikan pertanyaan yang harus dicari jawabannya melalui mesin pencarian. Nggak repot juga pegang hp sepanjang jalan kenangan.
  3. Siapkan kertas, alat tulis, buku kuliah (modul) dekat hp atau laptop. Jadi kalau dosen memberikan soal terkait dengan bahasan yang ada di modul, bisa langsung gercep cari jawaban.
  4. Usahakan selalu partisipasi di grup: jawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Ini supaya ada nilai partisipasinya.
  5. Ucapkan terima kasih di akhir perkuliahan.

Kuliah online ini masih akan berlanjut entah sampai kapan. Dan ternyata begitu kuliahnya. Yang penting ikuti saja instruksi dari dosen. Enjoy aja dan tetap semangat!

Semoga saja wabah cepat berakhir dan kita semua sehat.

Kalian pernah kuliah online kayak gini nggak? Punya tips tambahan? Yuk, bagikan di kolom komentar.

[Review Buku] Alex

Hai! Hai! Apa kabar kalian di tengah merebaknya virus corona? Tetap jaga kesehatan, jaga jarak dan jaga kebersihan, ya. Semoga kita semua senantiasa sehat dan dalam lindungan Tuhan.
Kali ini aku mau bahas buku yang aku beli dengan harga diskon di Gramedia Fair. Dulu entah tahun berapa, aku sempat pengen beli buku berjudul Alex ini. Tapi waktu itu harganya mahal. Lalu, beberapa waktu lalu akhirnya aku kesampaian juga beli buku ini. Bukunya didiskon!! Hore!
Oke, mari kita baca blurb yang ada di belakang buku:
Alex Prevost diculik dan dikurung dalam keadaan babak belur di gudang kosong. Namun si penculik tidak melakukan apa-apa, tampaknya ia hanya ingin memandangi Alex mati. Manakah yang akan menewaskan Alex duluan: rasa lapar, haus, atau tikus-tikus?
Selain laporan samar dari saksi mata, Komandan Polisi Camille Verhoeven tidak punya apa-apa: Tidak ada tersangka, tak ada petunjuk, dan sepertinya tak ada yang kehilangan wanita itu. Berdasarkan pengalaman pribadi, sang detektif tahu Alex harus ditemukan secepat mungkin – tapi ia mesti mengenal wanita itu lebih dalam.
Seiring terungkapnya detail-detail tentang hidup unik Alex, Camille terpaksa mengakui bahwa orang yang dicarinya tersebut bukanlah korban biasa. Alex memang cantik, tapi juga amat kuat dan cerdas.
Segera saja, menyelamatkan nyawa Alex bukan lagi menjadi tantangan terberat bagi Verhoeven.
Buku ini tuh ceritanya gila-gilaan. Ada dua sudut pandang tokoh di buku ini. Yang pertama adalah cerita tentang Alex dan kedua adalah cerita tentang detektif Camille yang menyelidiki kasus penculikan Alex.

Ceritanya tentang seorang gadis bernama Alex. Ia cantik dan memesona. Suatu ketika, tiba-tiba ia diculik. Alex sendiri tidak tahu kenapa ia diculik. Penculik hanya mengatakan ingin melihat Alex mati. Alex dikurung dalam kotak yang digantung dalam gudang yang sudah lama terbengkalai. Keadaannya sangat menyedihkan karena sebelumnya Alex dipukuli dan dihajar habis-habisan. Ia ditinggalkan oleh si penculik di dalam gudang tersebut. Alex hanya punya dua pilihan: bertahan hidup atau mati dimakan tikus-tikus kelaparan.

Sementara itu, detektif Camille yang menyelidiki penculikan tersebut merasa aneh karena tidak seorangpun yang melapor kehilangan keluarga. Tidak ada petunjuk apapun. Pencarian sulit dilakukan. Padahal waktu semakin sempit. Bisa saja korban penculikan itu mati.

Menurutku buku ini bisa digolongkan dalam genre Iyamisu. Artinya, saat dan setelah baca buku ini kalian tuh akan bilang “Iyuhhh! Ugh! Well…. Ish!”, …., dst. Semuanya kombinasi dari seru, sadis, menyedihkan, bikin terperangah, kesal, mencekam. Rasanya pengen spoiler.

Tapi aku nggak akan spoiler di sini. Nanti nggak seru buat kalian yang mau baca. Bukunya lumayan tebal. Tapi karena ceritanya bagus, jadi nggak akan terasa bacanya. Oh ya banyak plot twist muncul di sini. Makanya bacanya jadi seru.
Rating:
9/10
Informasi Buku:
Judul Buku: Alex
Pengarang:Pierre Lemaitre
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 440
ISBN: 978-602-03-3093-8

Misteri Manusia Kepala Tunduk

Hari ini aku pulang kemalaman. Nggak biasanya memang. Dan jarang terjadi. Tapi karena banyak kerjaan, ya mau nggak mau jadi pulang malam.

Jalanan sudah sangat sepi ketika aku pulang. Aku mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Nggak ngebut tapi juga nggak terlalu santai. Aku cukup tahu diri, ini sudah malam, lho!

Saat itu, tinggal tiga belokan lagi aku sampai di rumah. Di belokan pertama, dari jauh kulihat ada satu pengendara motor. Motornya jauh di depanku. Dari jauh aku bisa lihat motor itu jalannya pelan. Kupikir biasa saja. Mungkin orang itu sedang santuy. Tapi makin dekat aku makin merasa ada yang janggal. Kalian tahu apa? Ya, kepala pengendara motor itu tertunduk!!

Dari kejauhan nggak begitu jelas. Mungkin karena malam dan lampu jalan tidak begitu terang. Namun orang itu terus saja tertunduk. Saat aku berjalan di belakangnya, ia masih menunduk. Jadi, aku menyalakan lampu jauh motorku berulang-ulang supaya pengendara motor itu agak ke pinggir. Maklum, jalanan sempit dan motor itu jalannya tepat di tengah-tengah. Mau nyalip dari kanan nanggung, dari kiri apalagi karena ada selokan.

Motor itu masih saja jalan di tengah dan bapak pengendaranya tetap menunduk. Akhirnya aku nekad menyalip dari kiri sambil membunyikan klakson. Saat aku melewati motor tersebut aku menoleh ke pengendara motor yang aneh itu.

Jeng! Jeng! Saat itulah jantungku rasanya mau loncat terbang ke angkasa. Mukanya! Mukanya, lho! Mukanya nggak ada!!! Hiiiiii!!!

Orang itu di kepalanya hanya ada helm saja!! Nggak ada kepalanya!! Helmnya hitam. Dari depan jelas terlihat. Gelap! Nggak ada apa-apa di dalam helm itu!! Kosong!!

Gila!! Dan dia masih ada jalan dengan santainya. Dengan kepala masih tertunduk! Padahal di kepala itu nggak ada kepala!! Ya ampun, gimana ngomongnya ini!

Langsung aja aku tancap gas nggak mikir dua kali. Ampunnnnn…. mana ini hari Jumat. Horor bener, deh!

Ketika Dirimu Diperebutkan Dua Orang

Pada suatu hari…. aku masuk ke satu kelas berisi anak-anak TK. Aku masuk ke kelas bukan untuk mengajar.

Karena aku akrab dengan anak-anak di kelas itu, beberapa anak menyapaku. “Hai, Miss!” begitu sapa mereka. Satu anak menyapa, anak lain ikut-ikutan menyapa, tak mau kalah.

Aku mendekati satu anak yang sedang bermain puzzle. Anak itu menunjuk-nunjuk pekerjaannya. Lalu meminta bantuan. Aku memberikan sedikit bantuan. Lalu aku melihat anak lainnya yang duduk di karpet juga sedang bermain. Anak-anak tersebut mengajakku duduk bersama mereka. Selesai menemani anak-anak yang duduk di karpet, aku ke sisi kelas yang lain. Ada anak perempuan sedang bermain puzzle. Ia menarik lenganku dan menunjukkan puzzlenya yang sudah selesai dikerjakan. Aku memberikan pujian padanya.

Aku berjalan ke arah lainnya. Anak perempuan tadi menarik lenganku lagi. Ia memintaku bermain dengannya. Tapi, anak yang pertama kubantu mendekatiku. Ia berkata, “Miss jangan ke mana-mana. Sini duduk sama aku saja.”

Jadi aku jawab, “Iya miss kan masih di kelas ini. Kita main sama-sama saja ya.”

Lalu anak pertama itu berkata lagi, “Tapi miss jangan main sama dia. Miss sama aku saja.”

Lalu dia menarik lenganku yang satu.

Akhirnya aku meminta kedua anak ini mengikutiku ke arah anak-anak yang sedang bermain bersama-sama. Mereka pun lalu berbaur dengan anak yang sedang bermain beramai-ramai tersebut.

Anak-anak tuh lucu ya… Kalau sudah suka sama seseorang, mereka tidak mau orang tersebut membagikan kasihnya pada orang lain. Mereka ingin hanya mereka saja yang diperhatikan. Makanya kita sebagai orang dewasa perlu memberikan pengertian pada mereka bahwa kita sayang mereka semua.

* * *

* * *

* * *

Ya, kalau sama anak-anak begitu ya. Tapi jangan kau coba dengan yang lain saat kau punya pasangan. Membagi-bagikan kasih sayang (baca: mendua) tuh nggak baik.

Ini cerita tentang diperebutkan dua orang anak. Diperebutkan oleh anak-anak saja aku merasa bagai seorang artis bagaimana kalau diperebutkan oleh banyak orang ya?

Lalu

Aku

Jadi mengkhayal seandainya aku diperebutkan oleh dua laki-laki. Mereka memohon-mohon untuk menjadi pacarku. Wahahaha. Boleh dong berimajinasi.

🤣🤣🤣

[Review Buku] Your Name

Blurb:
Mitsuha, seorang gadis SMA yang tinggal di sebuah desa di pegunungan, bermimpi dia menjadi seorang anak laki-laki. Dia bangun di sebuah kamar yang asing, berteman dengan orang asing, melihat kota Tokyo tepat di depan matanya.

Di lain pihak, Taki, seorang pemuda SMA yang tinggal di Tokyo, juga bermimpi dirinya menjadi seorang gadis SMA yang tinggal di sebuah desa yang dikelilingi pegunungan.

Akhirnya, keduanya pun sadar bahwa mereka bertukar tubuh dalam mimpi masing-masing. Takdir yang mempertemukan mereka itu mulai menggerakkan roda-roda nasib.

Komentar:
Novel ini ditulis oleh sutradara Shinkai Makoto berdasarkan film animasi ‘Your Name’.

Ceritanya seru banget!! Mitsuha adalah seorang siswi SMA di desa. Ia berasal dari keluarga yang memegang teguh tradisi. Mitsuha dan adiknya, Yotsuha, tinggal bersama nenek mereka. Mereka berdua sering membantu nenek menjalankan tradisi upacara di kuil. Kakak beradik ini adalah Miko. Karena profesi neneknya tersebut, Mitsuha kadang merasa sebal. Ia sering diejek kelompok tertentu di sekolahnya.

Pada suatu hari, saat Mitsuha selesai dari tugasnya di kuil, ia berteriak marah dengan mengatakan ingin menjadi laki-laki saja.

Sementara itu, Taki adalah pemuda SMA yang tinggal di sebuah apartemen di Tokyo. Ia tinggal dengan ayahnya. Taki bekerja paruh waktu setelah selesai sekolah. Ia punya dua sahabat cowok.

Mitsuha dan Taki bertukar tubuh. Awalnya mereka tidak sadar. Tapi akhirnya mereka saling mengirim pesan sehingga bisa mengetahui kejadian saat mereka bertukar tubuh. Taki mencatat kejadian yang dialaminya di buku saat menjadi Mitsuha. Sedangkan Mitsuha mencatat kejadian-kejadian yang dialaminya di ponsel pintar saat menjadi Taki. Namun, rupanya pertukaran tubuh tersebut membawa mereka pada perputaran nasib. Ada hal lain yang lebih dari hanya sekadar pertukaran tubuh.

Sampul buku ini ada gambar kometnya. Lalu judulnya adalah Your Name. Itulah inti dari cerita ini. Tentang hubungan takdir. Roda-roda nasib. Taki yang orang kota. Mitsuha yang orang desa. Walaupun mereka saling mencatat nomor telepon masing-masing. Mereka tidak dapat saling menghubungi. Ada misteri apakah sebenarnya? Pembaca dibuat bertanya-tanya bagaimana cara mereka bertemu. Saking penasarannya, jadi baca terus dan terus tanpa mau berhenti.

Buku yang tebalnya 300-an halaman ini selesai dibaca dalam sekejab saja. Ceritanya sangat seru, konyol, lucu, sekaligus mengharukan. Bahasa di buku ini memang ada yang agak sedikit vulgar. Beberapa adegan tak patut dicontoh. Jadi memang baiknya buku ini dibaca oleh orang yang umurnya dewasa. Di bagian belakang buku ditulis U 15+.

Aku memang belum nonton filmnya. Walaupun banyak yang bilang filmnya sangat bagus. Tapi ada yang bilang bukunya lebih seru. Ada detail-detail yang tidak tersampaikan dalam film. Makanya aku pilih baca bukunya saja. Dan komentar orang-orang yang menyarankan untuk membaca bukunya saja itu sangat benar!!

Rating:
Aku beri nilai 9/10 untuk buku ini.
Sumpah buku ini keren banget!!

Informasi Buku:
Judul Buku: Your Name
Pengarang: Shinkai Makoto
Genre: Fantasy, Romance
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 336 halaman
ISBN: 978-623-7351-20-7