[FanFiction] I’m Sorry I Make You Fall In Love With Me (part 4)

Starring:
1. Minah
2. Kung Min
3. Mr. Joo

Base on K-Drama Beautiful Gong Shim

Kung Min:
Beberapa minggu aku melihat Minah selalu ada di sekitarku, baik saat aku akan berangkat kerja maupun saat aku pulang kerja. Ia juga beberapa kali bertanya apakah dia melakukan kesalahan padaku. Aku mencoba mengingat-ingat. Kupikir semua orang pasti pernah melakukan kesalahan pada siapapun: ayah, ibu, saudara, anak, teman, orang yang disukai, bos, rekan kerja, guru, orang tak dikenal… Dan dalam kasus Minah ini, dia… Dia pernah mengejekku sekali waktu. Tapi, sudahlah. Kuharap aku bisa melupakan kesalahan itu.

Kenapa aku berubah dan kenapa aku tak lagi menyukainya… akupun tak tahu. Kurasa perasaan orang bisa berubah, kan? Aku dulu mengejar-ngejarnya, mengikutinya ke mana saja, menyapanya duluan sebelum ia menyapaku, memanggil-manggil namanya… dan sekarang aku tak lagi melakukan itu. Bahkan aku menghapus namanya dari kontak teleponku. Aku tak ingin memberinya harapan sekecil apapun.

“Kenapa kau melakukan ini-itu padaku? Aku mengirim pesan hanya untuk mengobrol seperti dulu. Tapi, membacanyapun kau tidak lakukan. Apa salahku?” tanyanya suatu waktu.

“Tidak ada. Aku hanya… sibuk,” jawabku.

“Bisakah kita bertemu dan mengobrol? Sebentar saja?” tanyanya di lain waktu.

Dan tentu saja aku menolaknya dengan alasan sibuk. Aku tak ingin berlama-lama ngobrol dengannya. Namun ada sekali waktu kami bertemu di taman dekat rumah, kami mengobrol sebentar.

Ia kelihatan sedih. Tapi ia selalu tersenyum. Ia masih bisa mengobrol dengan siapapun. Dan tertawa banyak dengan Mr. Joo. Beberapa kali mereka pergi bersama. Lalu kuputuskan untuk mengabaikannya… mungkin untuk selamanya.

Minah, maafkan aku karena membuatmu jatuh cinta padaku. Kuharap kau segera menemukan sesorang yang bisa mengisi hatimu. Mr. Joo mungkin?

Minah:
Aku terus menunggui Kung Min saat ia hendak pergi bekerja maupun saat ia pulang kerja. Sampai beberapa minggu. Beberapa kali aku menanyainya tentang perasaannya.

“Apa ada yang salah denganku? Apakah karena aku ‘ugly’ sehingga kau tak suka padaku? Atau… apakah ada tingkah dan perkataanku yang menyakiti hatimu?” tanyaku suatu hari.

“Tidak ada,” jawabnya. Singkat. Dan sesudah itu ia kembali mengabaikanku.

“Aku minta maaf kalau aku bersalah padamu,” kataku di lain waktu.

“Iya. Tidak ada masalah, kok,” katanya.

Lalu kami mengobrol sebentar. Dan keesokan harinya ketika kami berpapasan di jalan, ia kembali mengabaikanku layaknya orang yang tidak saling kenal. Padahal sebelumnya ia selalu memanggilku, menyapaku, dan mengajakku bercanda. Tak ada lagi semua itu.

Aku lelah. Lelah berusaha untuk membuat ia kembali jadi, setidaknya, temanku. Aku tak berharap ia akan kembali menyukaiku. Aku hanya ingin kembali berteman denganku seperti sedia kala. Tapi… Ia bahkan sekarang bukan lagi temanku. Sangat menyedihkan!

Dan di saat aku sedih, Mr. Joo selalu menghiburku dengan leluconnya. Dia sangat menyenangkan. Dia juga menawarkan banyak bantuan padaku dan mengajakku jalan-jalan. Mungkin suatu saat aku bisa jatuh cinta padanya. Mungkin… tapi, aku benar-benar lelah.

Mr. Joo… dia selalu ada kalau aku memintanya. Dan dia juga muncul di saat tak terduga, entah disengaja atau tidak. Ia juga melakukan sesuatu tanpa diminta; membantuku mengerjakan ini-itu maupun menghiburku. Itu sesungguhnya bagus, kan? Tapi banyak pertimbangan yang membuatku tidak ingin menjalin hubungan spesial dengannya. Salah satunya karena aku lelah. Saat ini aku hanya butuh waktu untuk diriku sendiri. Kuharap tak butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka hati ini. Kuharap aku akan menemukan cinta yang baru; menemukan seseorang yang tidak mempermainkan hatiku, seseorang yang benar-benar tulus. Ya, semoga terjadi.

Untuk Mr. Joo, maafkan aku karena telah membuatmu jatuh cinta padaku. Aku tak tahu apa yang membuatmu menyukaiku. Tapi, aku benar-benar berterima kasih kau telah meluangkan waktumu untukku. Terima kasih untuk segalanya. Terima kasih mau menjadi teman baikku.

Mr. Joo:
Minah… Dia tahu aku menyukainya. Saat itu aku mengajaknya makan siang di sela-sela jam istirahat di tempat kerjanya yang baru.

“Minah, aku mengajakmu makan saat ini bukan hanya sekadar makan. Tapi… ada sesuatu yang ingin kukatakan,” kataku saat itu.

“Oh? Apa itu? Apakah kau akan melakukan perjalanan dinas?” tanyanya.

“Bukan. Bukan itu. Perjalanan dinasku masih lama. Sekitar dua minggu lagi aku akan pergi untuk proyek baru di luar kota. Mungkin akan makan waktu seminggu,” jawabku.

“Begitu… semoga lancar-lancar urusannya ya, Mr. Joo. Semangat!!” serunya.

Aku tersenyum melihatnya gayanya. Aku tahu dibalik senyumnya ia menyimpan kesedihan yang mendalam. Ingin rasanya aku mengenyahkan semua kegalauan dalam hatinya.

Aku benar-benar tak tahu apa yang ada dalam kepala Kung Min. Mengapa laki-laki itu berubah sikap dan mengabaikan wanita yang tadinya disukainya? Teganya ia melakukan hal seperti itu. Teganya ia mempermainkan perasaan orang! Lelaki sejati tak akan mempermainkan hati seorang wanita, walau dalam bercanda sekalipun.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku, Mr. Joo?” tanyanya, membuyarkan lamunanku.

“Eh… itu. Hmmm… sebenarnya aku…,” aku terdiam sebentar karena gugup. “Aku sebenarnya… suka padamu,” kataku.

Gantian Minah yang terdiam cukup lama sambil menatapku, lalu menatap piringnya, memainkan sendoknya, dan kembali menatapku. Aku menunggunya bicara.

“Hmmm… terima kasih karena sudah menyukaiku. Tapi… saat ini aku ingin memulihkan dulu hatiku,” katanya. Ia tersenyum. Senyum getir.

“Ooh, tak apa-apa. Aku mengerti,” kataku sambil tertawa. Tawa yang dibuat-buat untuk mencairkan suasana. Tawa yang sebenarnya tak perlu.

“Maaf ya, Mr. Joo. Jangan sedih karena kutolak,” katanya.

“Tidak masalah bagiku. Asalkan kita bisa tetap berteman,” kataku.

“Tentu saja! Kita masih berteman. Jangan menjadi canggung!” serunya, girang.

Aku memang merasa sedih karena ia menolakku. Tentu saja ia menolak karena ia baru saja ditolak, kan? Dan dia masih dalam masa pemulihan hati karena cintanya ditolak oleh Kung Min. Bodohnya aku. Huft!!

Tapi, jujur aku bersyukur karena ia masih mau berteman denganku. Aku akan berusaha lebih keras agar bisa menjadi seseorang yang bisa selalu membuatnya tersenyum. Walaupun saat ini statusku hanya teman, tapi… siapa tahu suatu waktu aku akan naik pangkat menjadi pacarnya, kan?

Minah… terseyumlah! Lupakan orang yang telah membuatmu sakit hati. Ingatlah kau masih punya orang-orang yang bisa membuatmu tersenyum!

Dan… jangan pernah meminta maaf karena telah membuatku jatuh cinta padamu. Cinta itu datang begitu saja. Aku akan memeliharanya dan tak akan membuatnya berkurang.

——–T H E E N D——–

Cerita sebelumnya:

Part 1

Part 2

Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: