Rumah Tua

Rumah itu rumahku. Rumah lama yang sekarang bukan milikku lagi. Ada banyak orang yang pernah tinggal di sana. Ada aku, ibu, bapak, adik, nenek, bibi, paman, mbak-mbakku dan para sepupu, juga beberapa teman yang cuma numpang menginap beberapa hari.

Ada banyak kenangan di sana. Kenangan saat aku masih kecil, saat aku belajar berjalan dengan cara mendorong kursi plastik kecil, saat aku berfoto dan bergaya seperti seorang model, juga kenangan saat aku punya hewan peliharaan untuk pertama kalinya. Kenangan itu… ada yang menyedihkan tetapi ada pula yang menyenangkan.

Aku juga ingat akan nenekku. Beliau sering duduk di dapur kalau sedang makan. Padahal di rumah ada ruang makan. Tetapi beliau merasa lebih nyaman makan di dapur. Nenek juga tak pernah absen memeriksa pintu dan jendela kala malam menjelang. Apakah pintu dan jendela sudah ditutup? Apakah semuanya sudah terkunci? Begitu terus setiap hari.

Aku juga ingat dengan para sepupu yang dulu sering main ke rumah. Kami main sepeda. Kadang main rumah-rumahan. Tak jarang pula main perang-perangan. Pernah, batang bambu dan batang dari daun pisang dijadikan pedang. Dan saat main masak-masakan, batu kerikil dan bunga-bunga dijadikan bumbu dan sayurannya. Seru sekali saat itu.

Hari ini… aku kembali ke rumah ini. Ada banyak orang di sini. Orang-orang yang kukenal dan tak kukenal berkumpul di rumah ini. Ada yang duduk di ruang tamu. Ada yang di ruang makan. Ada pula yang bercengkerama di teras.

“Ah, Rien ada di sini rupanya!” seru seorang sepupu padaku.

Aku menoleh.

“Ayo kita main petak umpet! Sepupu yang lain juga mau bermain,” ajaknya.

“Ayo!” jawabku.

Setelah suit, satu orang bertugas berjaga. Yang lainnya, termasuk aku, berpencar untuk bersembunyi. Hitungan dimulai dan kami semua berlomba mencari tempat persembunyian yang sulit ditemukan.

Rumah ini besar. Ada banyak ruangan di lantai satu. Tetapi di lantai dua hanya ada dua ruangan. Halamannya juga luas. Jadi, ada banyak tempat untuk bersembunyi. Aku memilih bersembunyi di kamar mandi.

Aku tak tahu kenapa aku memilih masuk ke kamar mandi. Seharusnya aku tak masuk ke sana, kan? Kalau ada yang kebelet pipis gimana, kan, ya?

Sambil menunggu, aku duduk di kursi plastik kecil yang ada di kamar mandi. Dari dalam, aku mendengar suara-suara obrolan orang-orang yang ada di rumahku. Mereka sepertinya asyik sekali bercerita. Ada yang tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum.

Namun… suara mereka makin lama makin pudar. Makin lama makin tak terdengar. Kemudian hilang sama sekali.

Hening

Aku menunggu. Beberapa saat. Tapi tak terdengar apa-apa. Tak ada juga yang mencariku. Lalu aku membuka pintu kamar mandi. Keluar dari sana.

Rumah kosong. Sepi. Tak ada perabotan apapun di rumah ini. Ruangannya gelap. Banyak sarang laba-laba dan debu. Suasananya… tidak sama seperti tadi.

Ah, ya… yang tadi hanyalah kenanganku. Kenangan tentang rumah lamaku. Kenangan tentang masa kecilku. Kenangan yang tak akan pernah mati… walaupun aku sudah mati.

Lalu… semuanya memudar. Menghilang dari pandangan. Termasuk tubuh jasmaniku. Sudah saatnya aku pergi.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Ada yang datang, ada yang pergi. Untuk yang pergi, rela nggak rela harus rela. Ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas. Apapun yang terjadi, harus bisa menerimanya.

Selamat tinggal rumah tua. Selamat tinggal kenangan…

Berbahagialah di kehidupan selanjutnya. Berbahagialah kalian yang masih bernyawa…

7 thoughts on “Rumah Tua

Leave a Reply to Dea Ayusafi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: