[Review Buku] I Saw The Same Dream Again

Novel karangan Sumino Yoru ini mengisahkan tentang perjalanan Koyanagi Nanoka, seorang anak SD, dalam mencari arti kebahagiaan. Koyanagi menganggap dirinya sendiri pintar. Ia mendapat tugas dari wali kelasnya untuk mencari arti kebahagiaan.

Koyanagi tidak punya teman akrab di kelas. Tetapi ia punya teman kecil, seekor kucing yang ia selamatkan saat sedang berjalan-jalan tak jauh dari rumahnya. Saat menemukan kucing tersebut, ia tidak tahu harus ke mana. Lalu ia menuju ke sebuah bangunan rumah susun. Ia memencet bel setiap pintu yang ditemuinya. Namun semuanya tidak menggubrisnya. Hingga tibalah ia di sebuah pintu terakhir. Terdengar suara dari dalam. Seorang wanita cantik membuka pintu dan mempersilakan ia masuk. Wanita itu mengobati Koyanagi dan mencucikan baju Koyanagi yang basah karena kehujanan. Sejak saat itu, Koyanagi menjadi akrab dengan wanita cantik tersebut.

Wanita cantik yang menyelamatkan kucing tidak memberitahukan namanya. Namun, Koyanagi melihat tulisan di depan pintu rumah wanita itu. Tertulis di sana Abazure. Padahal, dalam bahasa Jepang kata tersebut berkonotasi negatif. Tetapi Koyanagi yang masih kecil tidak mengerti dan malah menganggap kata tersebut seperti kata dalam bahasa asing. Wanita tersebut pun mengiyakan saja ketika Koyanagi menanyakan namanya.

Selain wanita cantik tersebut, Koyanagi mengenal seorang nenek baik hati yang pandai membuat kue. Koyanagi tidak sengaja menemukan rumah nenek tersebut saat ia jalan-jalan. Koyanagi menganggap rumah nenek tersebut sangat unik sehingga ia masuk ke dalam. Sejak saat itu, Koyanagi dan nenek menjadi akrab.

Saat diberikan tugas oleh gurunya, Koyanagi bertemu dengan orang lainnya yang juga menjadi akrab dengannya. Ia bertemu dengan Minami saat ia masuk ke gedung kosong di puncak bukit. Di sana ia melihat seorang anak SMA sedang mengiris pergelangan tangannya. Dari pertemuan tersebut, Koyanagi menjadi akrab dengan anak SMA tersebut.

Banyak kejadian aneh yang dialami Koyanagi saat ia mencari apa arti kebahagiaan. Masalah dimulai dari teman-teman sekelasnya, lalu kejadian aneh bersangkutan dengan Minami. Koyanagi juga semakin menyadari apa arti kebahagiaan setelah mengalami banyak kejadian aneh.

Komentar:
Buku ini keren banget! Tokoh utamanya memang seorang anak SD. Dan, dari buku ini kita diajak berpikir secara sederhana. Walaupun ceritanya sederhana, tapi maknanya sangat dalam. Kisah tentang persahabatan dan kekeluargaan terasa kental.

Ada satu kata bijak yang terus muncul di buku ini, yaitu “Kebahagiaan itu tidak berjalan mendekat, karena itu kita yang menghampiri.”

Selain itu, Koyanagi sering sekali mengumpamakan kehidupan. Misalnya:
1. “Hidup itu seperti makanan yang disediakan oleh sekolah. Walau tidak ada makanan kesukaan, kita harus tetap bisa menikmatinya.” ~hlm.47-48
2. “Hidup itu seperti cerita yang kau tulis sendiri…. Bagaimana kau mengubah menjadi happy ending, semua tergantung bagaimana usahamu memperbaiki dan menyempurnakannya.” ~hlm.111
3. “Bagaimanapun juga, hidup itu seperti pelari pertama dalam lari estafet. Selama diri sendiri tidak mulai bergerak, tidak akan memulai apa pun.” ~hlm.186
4. “Hidup itu sama seperti puding. Dalam kehidupan mungkin ada masa-masa pahit. Tetapi, di dalamnya juga terdapat banyak kebahagiaan yang manis. Manusia itu hidup untuk bisa merasakan bagian-bagian tersebut.” ~hlm.220

Koyanagi itu lucu dan pandai. Ia sendiri menganggap dirinya pandai sedangkan anak-anak lain bodoh. Terkadang ia egois, tapi ada teman-teman anehnya yang selalu menasehatinya. Ada tokoh guru Koyanagi yang bernama Hitomi-sensei. Beliau digambarkan sebagai sosok yang bijaksana, sosok guru yang benar-benar favorit.

Awal baca buku ini, aku sedikit tidak mengerti ceritanya. Tapi, makin dibaca makin seru. Banyak kisah-kisah mengharukan di buku ini. Tentu saja endingnya tak terduga. Ini yang bikin bilang… “Wah, ternyata begitu, ya.” Sambil berdecak kagum, berpikir: “Pantas saja judul bukunya begitu. Waaahhh…”

Boleh dikatakan, endingnya so cute banget! Uwuwuw! 😀

Rating:
Buku ini oke banget dibaca oleh (terutama) orang-orang yang sedang lelah hidup dan ingin mengetahui sebenarnya kebahagiaan itu apa. Jadi, aku beri nilai 4,5 dari skala 5.

Quotes:
Bertindak spontan adalah hal yang penting. Tapi, berpikir sebentar dan mencoba menunggu sebelum bertindak juga sama pentingnya. ~hlm.7

Belajar untuk memahami hal yang belum dimengerti adalah hal yang penting. Sedangkan, mengira sudah mengerti hal yang sebenarnya belum dipahami adalah hal yang sangat tidak baik. ~hlm.29

Menganggap bahwa diri sendiri adalah seseorang yang spesial itu hal yang penting…. Namun, selalu menganggap orang lain bodoh tidak akan mungkin bisa disukai oleh orang lain. ~hlm.202

Hal yang tidak menyenangkan tidak akan habis jika dihitung. Tapi, dibanding itu, ada banyak hal yang menyenangkan dan juga kegembiraan yang tidak terhitung dalam hidup. ~hlm.286

Kebahagiaan, bukanlah sesuatu yang datang dari ujung sana. Kitalah yang memilih, dan berusaha meraihnya. ~hlm.307

Hidup itu adalah segala milikmu yang bersinar di dalam harapan. ~hlm.307

Informasi Buku:
Judul Buku: I Saw The Same Dream Again
Pengarang: Sumino Yoru
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 312
ISBN: 978-602-52547-8-9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: