Bersama Buku Berpetualang Menembus Ruang dan Waktu

Aku mengenal buku sejak kecil. Dulu, ibu dan kakek-nenekku sering membelikan aku buku cerita anak-anak. Aku ingat saat aku masih kecil sering dibacakan cerita oleh ibuku. Awalnya aku dibelikan majalah anak-anak. Lalu, ketika aku sudah bisa membaca aku dibelikan buku cerita. Bukunya mulai dari yang ukurannya kecil sampai ke ukuran yang besar. Ada buku yang tipis dan ada juga yang tebal. Terkadang, orang tuaku membelikan buku pengetahuan juga. Aku ingat dulu aku punya buku tentang tanaman, hewan, bumi, alam semesta, hutan, dan lain-lain. Senang sekali rasanya membaca buku yang penuh dengan ilustrasi itu. Warna-warninya sungguh menarik perhatian.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, aku mengenal yang namanya perpustakaan. Aku sering meminjam buku dari perpustakaan. Saat ada waktu luang, aku akan mampir ke perpustakaan. Kebiasaan ini berlanjut sampai aku SMA. Buku-buku yang sering aku baca saat itu adalah buku karangan Enid Blyton. Bersama buku-buku karangan beliau aku ikut berpetualang ke desa-desa dan rumah-rumah besar yang di dalamnya banyak lorong-lorong rahasia. Ada Lima Sekawan yang menemani petualanganku. Rasanya seru sekali saat mendapatkan penemuan-penemuan yang ada di buku. Terkadang aku ikut merasa lapar juga ketika membaca tentang hidangan yang disajikan untuk Lima Sekawan. Sungguh buku-buku ini membangkitkan selera makanku!

Di masa SMP dan SMA buku yang aku baca tidak terlalu banyak. Aku ingat saat itu aku membaca buku-buku karangan R.L. Stine. Oleh beliau aku diajak berpetualang ke Fear Street. Aku dikejutkan oleh hantu-hantu dengan berbagai bentuk dan rupa. Aku mengalami malam-malam yang mencekam. Apakah ada yang mengintai dari bawah kolong ranjangku? Atau … ada sesuatukah di balik tirai jendelaku? Lalu, ketika kudengar lolongan anjing di malam hari aku mengira-ngira apakah monster hijau dari buku Goosebumps sedang mengendap-endap menuju ke rumahku. Ugh! Sungguh menyeramkan! Namun aku suka. Ada tantangan tersendiri ketika membaca buku-buku bergenre horor dan misteri seperti ini. Aku sedikit demi sedikit belajar melawan rasa takutku.

Memasuki masa-masa kuliah dan awal bekerja buku-buku yang aku baca mulai berkurang. Aku bahkan tidak ingat buku apa saja yang aku baca. Mungkin hanya beberapa majalah saja. Saat kuliah, kesibukan menyita waktuku. Ditambah lagi perjalanan menuju kampusku sangat jauh dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga puluh dua kilometer adalah jarak yang harus kutempuh. Seharusnya aku bisa membaca novel saat duduk di bus. Namun, bacaanku saat berada di bus hanya buku kuliah dan selebihnya mengantuk di perjalanan. Kadang-kadang aku juga mengobrol dengan teman seperjalanan dan seperjuanganku.

Setelah bekerja, aku lebih merdeka untuk memilih buku yang menarik minatku karena sudah punya uang sendiri. Aku senang pergi ke Toko Buku Gramedia yang berada di dekat tempat kerja pertamaku. Hampir setiap pulang kerja aku ke sana. Ada banyak buku-buku bagus di toko tersebut. Saat itu aku lebih tertarik dengan genre romance. Buku-buku karangan Meg Cabbot dan Sophie Kinsella menjadi pilihanku. Membaca buku-buku bergenre ini serasa menonton drama atau sinetron dengan episode yang pendek. Aku bertemu dengan berbagai jenis wanita dan pria. Aku berpetualang ke dunia Barat. Ah, apakah ini adalah perjalanan ke Barat? Mungkin iya. Tapi bukan bersama Bhiksu Tong, Sun Gokong, atau Chu Patkai. Aku ke Barat bersama dengan wanita-wanita keren dari berbagai profesi. Yah, tapi ada kalanya slogan Chu Patkai berlaku di buku-buku drama ini, “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” Duh! Nyesek! Akhirnya, aku mulai beralih ke genre lain karena tak tahan dengan derita tersebut.

Selama masa pandemi, buku yang kubaca mulai bertambah. Jika biasanya aku menghabiskan satu buku dalam dua bulan, di masa pandemi ini aku bisa baca dua buku dalam sebulan. Aku bahkan memasang target untuk membaca 24 buku di tahun 2021 ini. Buku-buku yang kubaca kebanyakan bergenre thriller. Oh ya, karena masa pandemi ini masa yang sulit, aku hanya mengincar buku-buku diskonan – buku asli dan bukan bajakan. Kita harus menghargai hasil karya para penulis dengan membeli buku asli. Dan, masih mending beli buku preloved yang asli daripada buku baru tapi bajakan.

Saat wabah Covid-19 melanda muka bumi, aku berpetualang ke berbagai negeri. Mari kita rincikan ke mana saja aku. Melalui buku School Nurse Ahn Eunyoung karangan Chung Serang, aku berpetualang ke Negeri Ginseng. Di Korea sana aku ikut membasmi hantu berbentuk jeli yang ada di sekolah tempat Perawat Eunyoung bekerja. Selain ke sekolahnya Perawat Eunyoung, aku ke tempat Mr. Lee yang dapat melihat makhluk halus. Di buku Mr. Lee Clean Center karangan Joung-Hee Kwon, aku ikut melihat proses membersihkan ruang bekas ditemukannya mayat. Aku ikut merasa mual tapi sekaligus merasa kasihan pada orang-orang yang tewas. Perasaan ngeri ikut menyelimuti diriku saat ada kasus pembunuhan di buku ini. Kengerian tidak berakhir sampai di sini, masih ada kengerian lainnya di buku The Good Son karangan Jeong You-Jeong. Anak yang baik itu seperti apa? Kenapa ia bisa menemukan ibunya sendiri mati bersimbah darah di rumahnya? Ah, manusia-manusia ini … kenapa begitu tega menghabisi nyawa seseorang demi mendapatkan apa yang ia inginkan?

Dari Korea aku menuju ke Negeri Sakura. Di sini aku berpetualang ke masa lalu sambil sesekali kembali ke masa kini. Melalui buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino aku melihat kehidupan orang Jepang pada masa lalu. Ada tiga orang yang iseng membalas surat-surat yang datang ke Toko Kelontong Namiya tempat persembunyian mereka. Keisengan mereka mengantarkan mereka pada petualangan yang mengubah hidup mereka. Di sini aku belajar bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Kebaikan walau sekecil apapun sangat bermanfaat bagi seseorang yang membutuhkan dan kebaikan itu sendiri tentunya akan kembali kepada si pemberi. Sungguh buku yang membuat terharu!

Petualanganku berlanjut sampai ke Australia. Aku dibuat gemas oleh anak perempuan yang mengaku-ngaku sebagai anak lainnya di buku Only Daughter karangan Anna Snoekstra. Beck adalah anak yang hilang sepuluh tahun lalu. Kemudian muncul Beck palsu. Beck palsu ingin merasakan kehidupan yang layak bersama orang tua yang bisa dibilang berada sekaligus untuk menyelamatkan dirinya dari incaran polisi juga. Keluarga Beck nampak harmonis namun tentu saja kita tak boleh menilai sesuatu dari tampak luarnya saja. Bahkan bunga mawar yang cantik memiliki duri yang dapat melukai jari kalau tak hati-hati.

Setelah ke Australia, mari lanjutkan perjalanan ke Ljubljana, Slovenia untuk menemui Veronika. Dalam buku berjudul Veronika Memutuskan untuk Mati karangan Paulo Coelho aku diajak melihat Rumah Sakit Jiwa tempat Veronika dirawat setelah menenggak beberapa butir pil tidur. Veronika yang masih muda dan cantik memutuskan untuk mati. Sedih sekali jika ada orang yang berpikir untuk mati. Apa yang ia alami? Terkadang, orang bisa dengan mudahnya berkata, “Segitu saja, kok! Lembek amat! Enjoy ajalah!” Namun bagi orang lain tentu tidak semudah itu, Fergusso! Apalagi jika yang kauhadapi adalah orang depresi. Gunakan empatimu!

Masa pandemi ini benar-benar membuatku harus beradaptasi. Dari yang tadinya bisa kerja full seharian, sekarang harus bekerja di waktu yang terbatas. Bahkan di awal pandemi aku hanya bekerja dari rumah. Belum lagi tuntutan pekerjaan terasa begitu berat. Namun buku-buku sungguh menghiburku. Selain buku-buku yang aku sebutkan di atas, masih banyak buku lainnya yang aku baca. Bersama buku aku melupakan sejenak kepenatanku. Walaupuun di masa pandemi ini aku membatasi diri untuk tidak terlau banyak kumpul-kumpul atau pergi ke mana-mana, namun bersama buku aku dapat berpetualang menembus ruang dan waktu. Melalui buku aku beradaptasi menjadi manusia yang mendapat banyak pengetahuan baru.

5 thoughts on “Bersama Buku Berpetualang Menembus Ruang dan Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: