H – 2

Bikin status di WA Story:

Tak lama kemudian, suasana menjadi ramai karena bunyi notifikasi dari hape. Banyak pesan masuk di WA.

Seorang teman kuliah menuliskan, “Wah, 2 hari lagi kita bakal ujian. Huhuhu. Aku belum belajar. Kamu pasti udah ya kan?”

Teman kantor menulis, “Apaan tuh H-2? Bakalan kencan ya? Eciye ciye….”

Rekan dari kantor lain menulis, “Wah, sepertinya mau buka bisnis baru 2 hari lagi, nih?”

Teman SMA yang sudah lama nggak berhubungan tapi nomornya tetap tersimpan di hp menulis, “Kabar baikkah itu? Kamu bakalan merid? Atau tunangan dulu? Jangan lupa undang aku, dong!”

Saudara sepupu menulis, “Apaan, sih? Tumben nulis H-2? Mau berangkat liburan ya?”

Teman dekat menulis, “Sok ah, tulis-tulis status H-2. Paling-paling caper aja!”

Hmmm….

Cuma bikin status H-2 aja pikiran orang sudah bermacam-macam ya. Ujian? Yes. Tapi bukan itu yang aku maksud. Kencan? Oh, no! Mau kencan sama siapa, Jeng? Bisnis? Kerja aja nggak selesai-selesai. Gimana mau buka bisnis? Tapi, mudah-mudahan nanti bisa buka bisnis sendiri. Doakan aja. Merid atau tunangan? Boro-boro merid atau tunangan, pacar aja nggak punya. Nasib! Jalan-jalan liburan? Mau sih tapi sementara jalan ke mall dekat kantor aja dulu deh.

Aku nulis status H-2, tuh, cuma pengen ingetin diri aku aja kalau dua hari lagi adalah Hari Minggu. Artinya libur. Bisa santai di rumah, nonton film, baca novel, makan, tidur, de-el-el. Itu aja sik. Nggak ada maksud lain, kok.

Caper? Hmmm… Iya, sih… hehehe.

Advertisements

Tebak-tebakan Bulan

Di dunia ini rupanya ada bermacam-macam bulan. Selain bulan sabit dan bulan purnama, ada juga bulan tua. Kayak tanggal-tanggal sekarang ini. Bulannya tua… tua sekali.

Ngomongin bulan, yuk main tebak-tebakan. Biar sedikit terhibur di bulan tua ini.

1.
Bulan apa yang bikin orang hepi, senyum-senyum terus, dan dunia terasa cerah?
Jawab: bulan muda.

Senangnya kalau awal bulan ya. Duit dibagi-bagi buat keperluan ini-itu. Jangan sampai deh baru tengah bulan sudah bilang: “Loh, uangku ke mana?” Ujung-ujungnya pas akhir bulan makan ramen, deh!

2.
Bulan apa yang bikin orang harus melakukan penghematan besar-besaran tapi ada juga yang pakai sistem ngutang?
Jawab: bulan tua.

Pliss yang merasa ngutang, bayar ya… hutangmu adalah nyawaku. Uwuwu.

3.
Bulan apa yang bikin cewek-cewek jadi bad mood, sensi, kepala puyenk, dan sakit perut?
Jawab: datang bulan.

Beberapa cowok biasanya nggak ngerti ini. Makanya ada lagu “karena wanita ingin dimengerti.” Padahal wanita tuh pengennya disayang dan diperhatiin.

4.
Bulan apa yang menjadi tanda bahwa pasangan baru merid?
Jawab: bulan madu.

Heran ya, kenapa dinamakan bulan madu? Apakah dahulu kala ada pasangan astronot baru merid trus jalan-jalan ke bulan lalu sampai di sana mereka mencicipi bulan dan ternyata bulannya rasanya seperti madu? Trus sekembalinya dari bulan, mereka memberi judul perjalanan mereka tersebut: bulan madu. Makanya kalau pasangan baru merid pergi jalan-jalan dinamakan bulan madu? Hmmm…

5.
Bulan apa yang membuat seseorang merasa tersakiti, terdzolimi, teraniaya sehingga bisa menimbulkan trauma?
Jawab: bulan-bulanan.

Menyedihkan banget menjadi bulan-bulanan ini. Apalagi kalau pas hari raya, pasti deh sanak keluarga handai dan taulan pada nge-bully. Mana pasangannya? Saking sebelnya jadi bilang: “Sementara ini sepatuku dulu aja yang ada pasangannya, ntar aku nyusul.”

6.
Bulan apa yang rajin banget urus anak dan keluarga?
Jawab:
BuLani pergi ke pasar belanja sayur trus pulangnya masak, habis itu nyuci, beres-beres rumah, siapin makan siang, angkat jemuran, setrika, urus anak, nyapu, ngepel, siapin makan malam, beres-beres lagi, urus anak lagi. Jangan mempertanyakan pekerjaan ibu rumah tangga ya. Kayaknya aja tak terlihat, padahal kerjaannya bejibun!!

Segitu aja tebak-tebakannya. Kalau kalian ada tebak-tebakan yang lain tentang bulan, silakan tambahkan di kolom komentar ya. Tengkiyuuuu….

Sistem Zo Nasi

Mari bercerita….

1. Di minimarket

Seorang ibu-ibu mampir ke minimarket dekat kantornya sebelum perjalanan pulang ke rumah.

Ibu-ibu : “Mbak, saya beli ini. Berapa total harganya?”
Kasir : “Ibu tinggal di mana?”
Ibu-ibu : “Di km 12. Kenapa memangnya, Mbak?”
Kasir : “Maaf, Bu. Sekarang ada sistem Zo Nasi. Ibu nggak bisa belanja di sini.”
🙄

2. Lowongan Pekerjaan

Ada reunian SMA di sebuah cafe. Setelah basa-basi yang akhirnya basi, obrolan bergeser ke topik lowongan pekerjaan.

A : “Eh, ada lowongan kerja di kantor gue.”
B : “Oh ya? Bagian apa?”
A : “Staf admin. Ada yang mau ngelamar?”
C : “Aku mau. Sudah 3 bulan ngganggur, nih! Syaratnya apa?”
A : “Kamu tinggalnya di mana?”
C : “Di daerah Inu.”
A : “Wah, jauh banget. Syaratnya tempat tinggal harus dekat kantor. Maklumlah sekarang ada sistem Zo Nasi.”
🙄

3. Pacaran, Yuk!

Setelah kurang lebih tiga bulan pedekate, seorang cowok ngajakin gebetannya makan di sebuah resto di mall. Padahal biasanya ngajak ke kantin doang. Iya, dong! Harus ke tempat yang agak wah, gitchuu.. Maklum, mau nembak si gebetan.

Cowok : “Ehm… Dek.”
Cewek : “Apaan, Bang?”
Cowok : “Adek mau nggak jadi pacar Abang?”
Cewek : “Nggak, ah, Bang!”
Cowok : “Lho, kenapa? Kita kan udah dekat.”
Cewek : “Siapa bilang, Bang? Rumah abang jauh banget dari rumahku.”
Cowok : “Trus kenapa? Kan abang bisa naik motor ke rumah adek.”
Cewek : “Maaf, Bang. Sekarang ada sistem Zo Nasi.”
Cowok : “Halah…”

Niat mau nembak, eh malah kena tembak gara-gara sistem Zo Nasi. Hadeuh! Ckckck…

4. Makan

Daripada pusing mikirin sistem Zo Nasi, ayok kita makan Nasi beneran.

Mari makan… 😁

Doppelgänger

“Siang tadi aku melihat seseorang yang wajahnya mirip banget denganku,” kataku pada temanku, Nirmala.

“Beneran mirip? Di mana kamu lihat?” tanya Nir.

“Iya. Mirip banget sampai aku kaget. Ketemunya di parkiran motor saat aku pergi urusan kerjaan tadi siang,” jawabku.

“Wah, kamu bertemu dengan doppelgänger kamu. Keren!”

“Istilah apaan tuh?”

“Itu artinya orang yang wajahnya sama persis dengan kita. Tapi nggak punya hubungan darah.”

“Oh, rupanya begitu….”

“Iyupss! Trus… trus… orang itu kaget nggak lihat kamu?”

“Nggak. Dia malah bilang sesuatu yang aneh.”

“Aneh gimana? Dia ngomong apa?”

“Dia bilang dia datang dari masa depan. Katanya selama masih ada waktu, banyaklah berbuat baik. Kalau merasa ada salah, cepatlah minta maaf. Kalau ada sebuah tugas yang belum dilakukan, cepatlah lakukan.”

“Datang dari masa depan? Memangnya kita ada di dunia Doraemon? Aneh banget.”

“Justru itu… Dan yang lebih aneh, dia bilang waktuku sudah nggak lama lagi. Jadi aku harus cepat melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan.”

“Iihhh… Serem banget!”

“Nah, makanya itu. Karena omongannya seram, aku cepat-cepat pamit dan tinggalin dia. Pas aku putar balik dari tempat parkir, orang itu hilang!”

“Huaaaa!!! Serem banget, sih!! Itu hantu ya??”

“Aku nggak tahu. Pokoknya aku langsung tancap gas.”

“Pengalaman yang aneh. Ya sudah, nggak usah dipikirkan. Sekarang, kerjakan apa yang mau kamu kerjakan.”

“Iya, Nir. Aku mau bikin tugas dulu, ya.”

Beberapa hari kemudian…

Aku sedang mengerjakan tugasku di kamar. Buku-buku bertumpuk di atas meja belajar. Aku menulis jawaban tugas sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba… dadaku terasa sesak. Aku kesulitan bernapas. Terbatuk-batuk. Kepalaku pusing dan jantungku berdebar sangat kencang. Pandangn mataku mengabur. Lama-kelamaan menjadi gelap.

Hari Senin, 27 Mei 2019 pukul 23.50, aku dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di ruang ICU. Jenazahku ditutupi kain putih lalu dibawa ke kamar mayat.

Rohku masih berada di ruang ICU. Kemudian nampak cahaya terang benderang. Seorang malaikat menghampiriku.

“Sebelum kami membawamu, kamu harus melaksanakan sebuah tugas,” kata malaikat tersebut.

“Tugas apakah itu, Malaikat?” tanyaku.

“Kembalilah ke beberapa hari yang lalu dan beritahulah dirimu agar banyak berbuat baik dan meminta maaf pada orang-orang yang kau kenal. Katakan pada dirimu bahwa waktunya sudah hampir habis. Pergilah! Laksanakan tugasmu sekarang!”

Malaikat mengayunkan tangannya dan mengirimku ke masa lalu. Aku menyamar menjadi Doppelganger diriku.

Rumah Tua

Rumah itu rumahku. Rumah lama yang sekarang bukan milikku lagi. Ada banyak orang yang pernah tinggal di sana. Ada aku, ibu, bapak, adik, nenek, bibi, paman, mbak-mbakku dan para sepupu, juga beberapa teman yang cuma numpang menginap beberapa hari.

Ada banyak kenangan di sana. Kenangan saat aku masih kecil, saat aku belajar berjalan dengan cara mendorong kursi plastik kecil, saat aku berfoto dan bergaya seperti seorang model, juga kenangan saat aku punya hewan peliharaan untuk pertama kalinya. Kenangan itu… ada yang menyedihkan tetapi ada pula yang menyenangkan.

Aku juga ingat akan nenekku. Beliau sering duduk di dapur kalau sedang makan. Padahal di rumah ada ruang makan. Tetapi beliau merasa lebih nyaman makan di dapur. Nenek juga tak pernah absen memeriksa pintu dan jendela kala malam menjelang. Apakah pintu dan jendela sudah ditutup? Apakah semuanya sudah terkunci? Begitu terus setiap hari.

Aku juga ingat dengan para sepupu yang dulu sering main ke rumah. Kami main sepeda. Kadang main rumah-rumahan. Tak jarang pula main perang-perangan. Pernah, batang bambu dan batang dari daun pisang dijadikan pedang. Dan saat main masak-masakan, batu kerikil dan bunga-bunga dijadikan bumbu dan sayurannya. Seru sekali saat itu.

Hari ini… aku kembali ke rumah ini. Ada banyak orang di sini. Orang-orang yang kukenal dan tak kukenal berkumpul di rumah ini. Ada yang duduk di ruang tamu. Ada yang di ruang makan. Ada pula yang bercengkerama di teras.

“Ah, Rien ada di sini rupanya!” seru seorang sepupu padaku.

Aku menoleh.

“Ayo kita main petak umpet! Sepupu yang lain juga mau bermain,” ajaknya.

“Ayo!” jawabku.

Setelah suit, satu orang bertugas berjaga. Yang lainnya, termasuk aku, berpencar untuk bersembunyi. Hitungan dimulai dan kami semua berlomba mencari tempat persembunyian yang sulit ditemukan.

Rumah ini besar. Ada banyak ruangan di lantai satu. Tetapi di lantai dua hanya ada dua ruangan. Halamannya juga luas. Jadi, ada banyak tempat untuk bersembunyi. Aku memilih bersembunyi di kamar mandi.

Aku tak tahu kenapa aku memilih masuk ke kamar mandi. Seharusnya aku tak masuk ke sana, kan? Kalau ada yang kebelet pipis gimana, kan, ya?

Sambil menunggu, aku duduk di kursi plastik kecil yang ada di kamar mandi. Dari dalam, aku mendengar suara-suara obrolan orang-orang yang ada di rumahku. Mereka sepertinya asyik sekali bercerita. Ada yang tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum.

Namun… suara mereka makin lama makin pudar. Makin lama makin tak terdengar. Kemudian hilang sama sekali.

Hening

Aku menunggu. Beberapa saat. Tapi tak terdengar apa-apa. Tak ada juga yang mencariku. Lalu aku membuka pintu kamar mandi. Keluar dari sana.

Rumah kosong. Sepi. Tak ada perabotan apapun di rumah ini. Ruangannya gelap. Banyak sarang laba-laba dan debu. Suasananya… tidak sama seperti tadi.

Ah, ya… yang tadi hanyalah kenanganku. Kenangan tentang rumah lamaku. Kenangan tentang masa kecilku. Kenangan yang tak akan pernah mati… walaupun aku sudah mati.

Lalu… semuanya memudar. Menghilang dari pandangan. Termasuk tubuh jasmaniku. Sudah saatnya aku pergi.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Ada yang datang, ada yang pergi. Untuk yang pergi, rela nggak rela harus rela. Ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas. Apapun yang terjadi, harus bisa menerimanya.

Selamat tinggal rumah tua. Selamat tinggal kenangan…

Berbahagialah di kehidupan selanjutnya. Berbahagialah kalian yang masih bernyawa…

Benda Aneh Mengapung di Bak

Matahari mulai tenggelam. Tanda maghrib telah datang. Aku, Elsa, Tuti, dan Lala berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. Hanya kami berempat yang ada di rumah sore ini. Ayah dan ibu sedang pergi ke rumah nenek, sedangkan kakak kami yang paling tua, Kak Bayu, belum pulang kuliah.

“Kak, aku ke kamar mandi dulu ya,” kata Lala, adik yang paling bungsu.

“Iya. Nggak takut kan sendirian ke belakang?” tanyaku.

“Nggak, kok. Tenang… adek nggak penakut lagi sekarang. Hehehe,” jawab Lala.

Setelah Lala pamit ke belakang, aku dan adik-adikku yang lain kembali menonton. Film kartun ini sangat lucu. Kami tertawa terbahak-bahak. Saat asyik menonton, tiba-tiba terdengar teriakan Lala.

“Aaaagghhh!!!”

“Kenapa itu?” tanya Elsa, si anak ketiga. Ia berdiri dan berlari ke belakang. Aku dan Tuti mengikutinya.

“Lala, kenapa?” tanya Tuti, si anak keempat.

Muka Lala nampak pucat. Dengan tangannya yang gemetaran ia menunjuk ke arah bak mandi.

“Itu, Kak. Ada benda aneh mengapung di bak,” jawab Lala.

Elsa yang pemberani di antara kami semua masuk ke kamar mandi untuk mengecek.

“Hah! Apa itu?” serunya.

“Apa?” tanyaku.

“Sesuatu yang berwarna abu-abu dan agak lonjong. Benda aneh!” jawab Elsa.

Aku mengecek ke kamar mandi. Benar kata adikku. Itu benda aneh. Lalu aku menuju ke dapur tempat ayah menyimpan tongkat dari rotan. Kata ayah, tongkat itu untuk berjaga-jaga kalau ada orang jahat masuk ke rumah. Kuambil tongkat rotan tersebut dan kubawa ke kamar mandi.

“Kak, mau ngapain? Apa kita nggak tunggu Kak Bayu pulang aja?” kata Tuti.

“Tapi aku penasaran dengan benda aneh itu,” kataku.

Aku masuk ke kamar mandi. Lalu, tongkat yang kupegang kuarahkan ke benda aneh yang mengapung itu. Kuketuk-ketukkan benda aneh itu. Lalu aku membalik benda itu.

Ssaaaattt…

“Aaaagghhh!” teriakku.

Ketiga adikku kompak bertanya, “Apa itu?”

“Itu…. tikus!!!” seruku.

“HUUAAAAAA!!!!” Teriak ketiga adikku.

“Tunggu dulu… Tapi tikusnya nggak menyeramkan kok mukanya,” kataku.

“Masa sih?” tanya Elsa.

“Iya. Lihat saja mukanya, imut banget kayak hamster,” jawabku.

“Ah iya, kok bisa ya?” kata Tuti.

“Ayo kita keluarkan dia dari dalam bak,” ajak Lala.

Kami semua pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengeluarkan si tikus dari dalam bak. Karena, tidak ada yang berani memakai gayung untuk mengeluarkannya.

Beberapa menit kemudian kami menyerah. Tidak ada yang bisa dipakai. Tepatnya, kami tidak ingin mengotori peralatan dapur milik ibu. Akhirnya kami kembali ke kamar mandi dan memutuskan untuk memakai gayung saja.

Namun…

“Tikusnya hilang!!!” seru Lala yang tiba duluan di kamar mandi.

Kami bertiga saling berpandangan. Tiba-tiba kami merinding. Apa maksudnya ini???? 😥

***

Rumput Tetangga (Belum Tentu) Lebih Hijau

Di suatu siang yang mendung-mendung kelabu, sekelompok ibu-ibu lagi duduk-duduk di warung kopi sambil ngerumpi.

“Tugas kalian sudah selesai?” tanya satu ibu.

Pertanyaan itu rata-rata dijawab dengan belum. Lalu disusul dengan keluhan-keluhan tentang banyaknya pekerjaan dan tugas ini-itu. Namun ada satu yang jawabannya berbeda.

“Aku sudah selesai. Semua tugasku beres! Hohoho.”

“Wah, kok bisa?” tanya ibu lainnya.

“Iya, dong! Aku tinggal menyuruh anak-anak membantu. Begitu melihat ada yang nganggur, aku suruh bantu kerja. Lalu, ada keponakan juga yang bisa dimintai bantuan. Beres, deh! Selesai tugasku!”

Salah satu ibu nyeletuk, “Wah, enaknya ada yang bisa disuruh. Enak banget ada orang yang bisa diminta membantu. Coba kalau aku juga begitu. Tapi… semua sibuk sama kerjaan masing-masing. Kalau diminta mengerjakan sesuatu, selalu saja ada alasan. Ujung-ujungnya harus kerja sendiri terus.” Dalam hatinya, ia ingin seperti ibu yang tugasnya sudah selesai itu. Ia ingin anak-anak dan keponakannya bisa membantunya juga.

Tetapi, siapa yang tahu?

Ibu yang pekerjaannya sudah selesai bergumam dalam hati, ‘Iya sih… Enak ada yang bantuin ngerjain tugas. Tapi enak juga uangnya. Minta bantuan itu nggak gratis. Ada harga yang harus dibayar. Mereka minta dibeliin apa harus dibeliin. Kalau nggak dibeliin, bisa hancur semua. Apa boleh buat kerjaan banyak banget dan nggak bakal selesai jika tidak minta bantuan. Hmmm… Harus hemat uang belanja, deh, bulan ini!”