Ketika Duniamu Gelap Sebagian

Saat kau mendapati duniamu gelap sebagian, apa yang akan kamu lakukan?
Apa yang pertama kali terlintas dalam benakmu? Dunia kiamat? Kematian sudah dekat?

Mata yang biasanya bisa melihat dengan jelas, kini gelap sebagian. Bisa melihat tetapi ada sebagian gelap. Dunia nampak berbayang-bayang. Pusing tentunya. Sakit kepala itu pasti.

Aku bertanya padamu: “Apakah kamu punya palu? Aku mau pinjam kalau kamu punya.”
Kamu balik bertanya: “Untuk apa?”
Aku mengatakan: “Untuk mengobati sakit kepalaku. Tapi menunggumu mengantarkan palu akan memakan waktu. Jadi, aku batalkan saja pinjam palunya. Di sini ada dinding. Hantam. Selesai.”
Lalu kamu berkata: “Jangan begitu! Istirahat saja. Makan obat.”

Benar… Obat. Istirahat. Akan kulakukan. Lalu, nonton K-Drama. K-drama biasanya ampuh menyembuhkan segala penyakit. Tapi… Sakit itu masih saja ada.

Ah, ya! Bumbu-bumbu! Jika rasa masakan tak enak, tambahkan penyedap rasa, garam atau kecap atau sambel. Kurasa akan bekerja juga jika tak enak badan. Mungkin…

Lalu, untuk dunia yang gelap sebagian ini… Akan kuminta Om Petugas PLN untuk tidak mematikan listrik hari ini. Ya, begitu!

Advertisements

Lucu-lucuan di Hari Libur

Akhir tahun, nih! Libur tlah tiba. Hore! Hore!
Liburan tuh enaknya diisi dengan kegiatan santai, ngerjain hobi, dan lucu-lucuan biar seru. Mari ngelawak sejenak!

1. Blog

“Hai, Jeng! Lagi ngapain?”
“Mau ngeblog, nih, Sis!”
“Liburan gini kok ngeblog? Nggak jalan-jalan aja, Jeng?”
“Blog itu ibaratnya pacar. Kalau punya pacar jangan di-anggur-in tapi di-apel-in. Makanya harus dikunjungi blognya.”
“Iya, deh.”

2. Urus-gemuk

“Halo, Jeng. Sibuk apa, nih?”
“Hai, Sis! Aku lagi sibuk ngurusin dapur trus ngurusin jemuran, ngurusin cucian, dan ngurusin kamar, nih! Mau bantu?”
“Waduh! Liburan gini kamu ngurusin ini ngurusin itu? Kapan kamu nggemukin badan? Pantesan aja kamu nggak gemuk-gemuk. Ngurusin terus sih kerjaannya.”
“Jiah, cape deh!!”
“Tuh, kan… cape. Ckckck.”

3. Sprei

“Hei, Jeng!”
“Hei Tayo!”
“Lagi apa, Jeng?”
“Lagi bongkar sprei, nih!”
“Wah, mumpung liburan ya, Jeng! Ganti sprei biar tidur lebih nyenyak!”
“Hmmm… Tapi, boleh nggak ya kasurnya nggak usah dipakaikan sprei? Aku malas pasang spreinya, Sis!”
“Haduh, Jeng, sprei itu ibaratnya pakaian. Masa sih kasurnya nggak dipakaikan baju? Sama kayak kamu kalau nggak pakai baju kan kedinginan, toh!”
“Oke! Oke! Aku pasang spreinya!”

4. Terkenal

“Aloha, Jeng! Lagi liburan, kan? Jalan ke mall, yuk!”
“Nggak, ah!”
“Lho, kenapa? Daripada bengong di rumah mending kita jalan aja.”
“Nggak mau. Soalnya di mall banyak yang manggil-manggil aku.”
“Hah? Siapa?”
“Itu, tuh! Lagu yang ada kata-kata Gloria Gloria-nya.”
“Astaga, kamu ge-er banget, sih?”
“Hahaha.”

5. Sabun Cuci Piring

“Eh, Jeng, lagi santaikah?”
“Nggak juga, Sis. Aku baru aja nyuci piring. Kenapa?”
“Nanya aja. Oh, ya, kamu pakai sabun cuci apa?”
“Mama Lime.”
“Oh, aku pakai temannya Mama Lime.”
“Siapa itu? Mama Enem? Mama Tujuh? Mama Delapan? Atau… Mama Tige? Mama Due? Mama Satu?”
“Haha. Sekalian aja berhitung sampai seratus!”

Sekian lucu-lucuannya. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan…

Hey! Ayo, Bersih-bersih!

Pada suatu hari yang mendung, awan gelap menggantung, dan angin kencang berhembus bergulung-gulung… Kulihat teman-teman baikku. Mereka sedang menganggur. Memandangi orang-orang yang lalu-lalang. Tatapan mataku bertemu dengan mereka. Satu per satu.

“Hai, sapu! Apa lo lihat-lihat?” sapaku pada sapu.

“Nggak kenapa-kenapa,” jawab sapu tersipu-sipu.

“Hei, cikrak! Lo kenapa senyum-senyum?” tanyaku pada cikrak.

“Lo pasti ngerti, kan, kenapa aku senyum-senyum?” balas si cikrak.

“Hehehe, iya. Lo tau banget, deh!” jawabku.

“Ada yang pakai sepatu trus masuk ke dalam ruangan. Sepatunya kotor, bikin ruangan jadi berpasir. Kotor banget, deh!” kata si sapu.

“Yupz! Ayo bersih-bersih!” ajakku. Kamipun bekerja sama membersihkan ruangan yang kotor.

Tak lama kemudian….

“Hei!” panggil lap meja.

“Hei Tayo!” sahutku.

“Bagaimana denganku dan kemoceng?” tanya lap meja.

“Memangnya kenapa?” balasku.

“Ada yang kotor di meja. Ayo bersihkan!” seru kemoceng.

“Ah, ya. Kalian benar!” jawabku. “Ayo bersih-bersih!”

Lalu kami membersihkan meja yang kotor oleh serpihan penghapus dan tumpahan lem.

Menyenangkan sekali melihat ruangan nggak berpasir lagi dan meja juga bersih. Sapu, cikrak, kemoceng, dan lap benar-benar sahabat sejati! Nah, sekarang mari melihat ke kamar mandi.

“Hei!” sapa para sikat dari dalam kamar mandi.

“Hei Tayo!” sapaku.

“Kamar mandinya sudah kotor, nih! Ayo bersih-bersih!” ajak sikat kecil.

“Let’s go!” seruku.

Menyikat kamar mandi atau bersih-bersih kamar mandi adalah salah satu pekerjaan yang menyenangkan menurutku. Aku nggak suka masuk ke kamar mandi yang kotor dan gelap. Kamar mandi tuh harus terang dan bersih. Jadinya nyaman saat berada di sana. Kalau tempatnya gelap, kotor, ditambah bau pula rasanya sangat menyeramkan sekali!

Setelah bersih-bersih, perut lapar. Mari melihat ke dapur. Ada apa di dapur? Ada wajan dan perlengkapan dapur lainnya. Ada juga piring dan gelas kotor.

“Hei!” panggil sabun cuci piring.

“Hei Tayo!” sahutku.

“Piring, sendok, garpu, dan gelas kotor, nih! Ayo mencuci!” ajak spons.

“Yo, ayo! Cuci-cuci sampai bersih!” kataku.

Tak butuh waktu lama, pekerjaan rumah pun selesai.

“Kamu nggak setrika pakaian?” tanya setrikaan.

“No! No! Aku lipat baju aja,” jawabku.

“Okelah kalau begitu. Habis ini masak-masak?” tanya setrikaan lagi.

“Kalau ada waktu aku masak-masak. Kalau lagi banyak kerjaan, nggaklah,” jawabku.

Oke sip. Bersih-bersih, sudah. Cuci piring, sudah. Lipat pakaian juga sudah. Semua pekerjaan rumah tangga yang aku sukai sudah selesai. Hari sudah malam. Waktunya beristirahat.

Malam-malam. Habis kehujanan. Jalan macet parah. Dingin-dingin. Mari tidur…

* * *

Demikianlah cerita fiksi tentang pekerjaan rumah tangga yang disukai. Kalau kalian, pekerjaan rumah tangga yang seperti apa yang kalian suka? Bersih-bersih? Cuci-cuci? Masak-masak? Yuk, bagikan di kolom komentar.

* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Day Blog Challenge yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network. Tema hari ke-21: Pekerjaan rumah tangga yang disukai.

Tjandoe

Pada suatu pagi yang belum cerah. Langit masih nampak gelap. Matahari masih sembunyi malu-malu di balik awan. Sesekali ia mengintip, menampakkan sedikit birai sinarnya. Lalu kembali ke balik awan.

Seo Ri mengerjap-erjapkan matanya. Tangannya menggapai-gapai mencari ponsel barunya. Lalu ia menyalakannya.

“Halo! Semoga harimu menyenangkan,” begitu sapa si ponsel pada pemiliknya.

“Hai juga hape. Ada kabar apa hari ini?” tanya Seo Ri.

“Ada 5 pesan masuk di WA, 10 notifikasi di ig, 4 notifikasi di wp, 3 email baru, dan 1 pesan di Twitter,” jawab si ponsel.

“Wah, tidak sebanyak kemarin ya…,” kata Seo Ri. “Hari ini nggak ada pemberitahuan di Fb?”

“Nggak ada. Sepertinya orang-orang sudah mulai jarang online di Fb. Makanya sepi,” jawab si ponsel.

“Ya sudah, aku cek dulu satu per satu…,” kata Seo Ri. Ia sangat senang karena sekarang ia punya banyak akun medsos. Sebut saja: Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, Line, BBM, dan masih banyak lagi. Kalau bisa, semua aplikasi media sosial dia punya!

Seo Ri membuka satu per satu notifikasi dan pesan yang didapatnya. Dari luar kamar, terdengar Jennifer memanggilnya.

“Seo Ri! Ayo sarapan dulu! Sudah jam berapa ini. Kamu kan harus kerja!” panggil Jennifer.

“Iya, sebentar Eonni!” jawab Seo Ri.

Satu jam berlalu. Seo Ri masih asyik dengan ponselnya. Setelah mengecek notifikasi dan pesan masuk, ia sibuk menggeser layar ponsel ke atas dan ke bawah. Banyak berita dan info up to date mulai dari headline news sampai gosip receh, ada pula pemandangan bagus yang bisa dilihat di layar ponsel. Banyak postingan yang bisa diberi tanda hati. Juga, banyak komentar yang harus dibalas. Selain itu, ada game seru yang kalau dimainkan tak terasa menyita waktu.

“Seo Riiiii! Kamu tidak tahu ini sudah jam berapa?? Segera keluar dari kamar dan pergi kerja!” seru Jennifer dari dapur.

Seo Ri melirik ke jam dinding.

“Omaigad!!! Aku telat!!” teriak Seo Ri.

Ia bergegas cuci muka, menggosok gigi, dan mengganti pakaian. Lalu ia berlari mencari taksi menuju kantornya.

Tiba di kantor, Seo Ri telat satu jam! Bosnya, Hee Soo, memasang tampang galak bin jutek.

“Seo Ri! Ini sudah hari ke 3 kamu telat. Jangan bilang kamu keasyikan main hape lagi ya!” seru bosnya.

“Lho? Kok Bu Bos tau?” tanya Seo Ri sambil tertunduk.

“Astaga Seo Ri…. Aku memberimu ponsel untuk urusan kantor. Dan supaya aku bisa lebih mudah menghubungimu. Memang sih nggak ada salahnya kamu punya medsos. Dari medsos kamu bisa banyak dapat informasi, bisa dapat banyak teman juga. Tapi kalau kamu sampai lupa waktu, artinya medsos itu sudah menjadi candu! Kamu sudah diracuni olehnya!” jelas Bu Hee Soo. “Pokoknya, kalau besok kamu telat lagi, ponselmu akan kusita!!” tegas Hee Soo.

“Baik, Bu Boss,” kata Seo Ri. Ia merasa bersalah.

Tapi… Tentu saja perasaan bersalah itu hanya bertahan sementara. Begitu tiba di rumah, ponsel Seo Ri tak lepas dari tangannya. Ada saja yang dikerjakannya di media sosial. Balas-membalas chatting. Update status. Kirim komentar sana-sini. Kasih tanda like di setiap postingan yang dilihatnya. Main game online. Tak lupa pula mendengarkan musik dan nonton video yang ia download. Dan saking asyiknya online di medsos, Seo Ri sampai melupakan pacarnya, Woo Jin.

Woo Jin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Seo Ri yang selalu sibuk dengan medsos, “Medsos oh medsos, lo benar-benar tjandoe!!”

* * *

Fan fiction yang dibuat berdasarkan nama tokoh dari drama Korea berjudul Still 17 ini diikutsertakan dalam BPN 30 Days Challenge 2018 oleh Blogger Perempuan Network. Tema hari ke-5: Tentang Media Sosial

* * *

Keterangan:
*Eonni = sebutan untuk kakak perempuan dalam Bahasa Korea
* Tjandoe = candu (ejaan Indonesia zaman dulu)

Naga Mata Merah

Hari ini, kegiatanku banyak banget serasa tak habis-habis. Selesai tugas di malam hari turun hujan gerimis. Jarak pulang ke rumah yang jauh bikin aku ingin menangis. Tapi aku harus tetap semangat walau harus sedikit meringis.

Saat hendak pulang, aku melihat patung naga bermata merah. “Hai, naga, kenapa matamu merah? Apakah kamu marah?” Kupikir, mungkin karena hari ini aku pulang malam makanya naga mata merah itu marah. Entahlah… yang pasti aku sangat lelah.

Di perjalanan, hujan turun dengan derasnya. Sungguh aku tak menyangka! Aku tak sempat memakai jas hujan, padahal aku membawanya. Akibatnya, sesampainya di rumah pakaianku basah semua.

Begitu tiba di rumah, aku langsung makan lalu bersih diri. Tak lama kemudian hujan berhenti. Walaupun tadi hujan, suhu udara sama seperti siang tadi. Panas sekali hingga bisa bikin emosi.

Karena lelah, aku cepat terlelap. Dalam mimpiku aku bertemu dengan naga mata merah.

“Hai naga, kenapa kau muncul di mimpiku?” tanyaku.

Naga mata merah terbang mengelilingiku.

“Apakah kau mengikutiku?” tanyaku lagi.

“Aku kasihan melihatmu yang lelah bekerja. Karena itu aku mengikutimu. Aku akan mengabulkan tiga permintaanmu,” jawab naga mata merah.

“Benarkah?” tanyaku tak percaya.

“Ya, tentu saja. Sebutkanlah permintaanmu,” kata naga mata merah.

“Ah, besok aku tidak bisa ikut tim kesenianku bertugas karena harus menemani anak-anak pergi lomba. Aku ingin agar teman-temanku di tim kesenian sukses tampil di acara besok,” kataku.

Naga mata merah terbang meliuk-liuk. Mata merahnya bersinar terang. Tring!

“Baiklah, permintaanmu dikabulkan!” ujarnya.

Lalu muncul asap dari mulutnya. Dari asap tersebut, aku melihat teman-temanku tampil percaya diri. Mereka sukses tampil di acara besok. Panitia memberi selamat kepada mereka. Semua tersenyum. Dan aku merasa lega.

“Selanjutnya, apa permintaan keduamu?” tanya naga mata merah.

“Besok anak-anakku akan mengikuti perlombaan. Aku ingin mereka memenangkan lomba,” jawabku.

“Permintaanmu dikabulkan,” kata naga mata merah. Ia lalu meliuk-liukkan tubuhnya lagi. Tring! Matanya kembali bersinar terang. Lalu keluar asap dari mulutnya.

Dari balik asap, aku melihat anak-anakku bertanding. Mereka mendapat skor tertinggi dan akhirnya memenangkan lomba. Panitia memberi mereka piala. Aku pun ikut bergembira.

“Sekarang, sebutkan permintaan terakhirmu,” kata naga mata merah.

“Hmmm….,” gumamku sambil berpikir apa yang akan kuminta. “Aku ingin tidur nyenyak malam ini supaya besok bisa kembali segar.”

“Baiklah. Permintaanmu dikabulkan,” kata naga mata merah. Ia lalu berputar-putar makin lama makin tinggi dan menghilang di udara.

Setelah itu aku kembali terlelap, tidur dengan nyenyak sambil tersenyum. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih telah diberikan kesempatan bertemu dengan teman-teman baik dan orang-orang hebat. Semoga besok semuanya aman dan lancar.

Tangan Hitam

Pada suatu hari, di suatu siang yang panas, aku melihat motor yang aneh di parkiran sebuah minimarket. Ada sarung tangan dipasang di stang motor tersebut. Sarung tangannya berwarna hitam. Entah motor siapa itu. Yang pasti pemiliknya pastilah kreatif karena meletakkan sarung tangannya seperti itu.

Kalau motor matic biasanya ada masing-masing satu loker di sisi kiri dan kanannya. Motor biasa tidak punya lokernya. Nah motor yang kulihat itu adalah motor biasa. Tidak ada lokernya. Karena motornya tidak ada lokernya mungkin si pemilik memiliki ide untuk meletakkan sarung tangannya di stang motor saja supaya tidak repot kalau dibawa ke mana-mana. Suatu ide yang brilian, kan?

Aku masuk sebentar ke minimarket untuk membeli makanan kecil dan minuman. Ketika keluar dari minimarket, kulihat pemilik motor aneh tadi sedang duduk di motornya. Alangkah terkejutnya aku saat melihat apa yang dilakukan pemilik motor tersebut. Rupanya tangannya benar-benar diletakkannya di stang motor. Ia memasangkan kembali telapak tangannya beserta sarung tangannya ke pergelangan tangannya. Jadi, yang diletakkan di stang motor itu benar-benar sebuah tangan!!

* * *

Cerita ini hanya fiksi

Perempuan yang Memotong Rambut

“Hei, kamu lagi ngapain?” tanya seorang kakak pada adik perempuannya.

“Potong poni, Kak,” jawab si adik.

“Poni kamu nggak terlalu panjang, kok. Kenapa dipotong?” tanya kakaknya lagi.

“Ya, nggak apa-apa. Menurutku perlu dipotong. Jadi ya potong saja,” jawab si adik.

“Dasar aneh. Bulan lalu potong poni. Dua bulan sebelumnya juga. Sepertinya kamu potong poni setiap bulan ya,” gumam si kakak.

“Kakak ngitung berapa kali aku potong rambut? Kok sampai hapal kapan saja aku potong rambut?” tanya si adik.

“Nggak juga. Tapi kakak rasa kamu terlalu sering potong rambut biarpun cuma sedikit yang dipotong,” jawab si kakak.

“Kamu itu aneh!” lanjut si kakak sambil meninggalkan adiknya yang masih asyik dengan rambut dan gunting.

Si adik perempuan diam saja sambil terus memperhatikan rambutnya, mengira-ngira apakah ada lagi yang perlu dipotong.

Ya… tepat sekali apa yang dikatakan si kakak. Memang si adik perempuan ini sering sekali memotong rambutnya. Sebulan minimal satu kali ia akan memotong rambutnya sendiri. Tidak banyak yang dipotong. Paling hanya beberapa milimeter.

Apakah si adik ini sudah gila? Nggak. Dia normal. Tetapi memang… ia memotong rambut setiap kali ia merasa tertekan atau stress. Dengan memotong sedikit rambutnya, ia merasa penampilannya berbeda. Ia merasa menjadi pribadi yang baru. Hal itu menyebabkan ia menjadi bahagia dan stressnya berkurang.

Apakah si adik perempuan jadi gundul karena rambutnya sering dipotong? Nggak. Karena ia hanya memotong sedikit saja. Tapi… karena itu rambut si adik perempuan tidak pernah panjang. Ia selalu tampil dengan penampilan berambut pendek.

Si adik perempuan bercita-cita jika ia sudah dewasa nanti ia akan mengecat rambutnya dengan warna coklat atau pirang. Tidak ada salahnya kan mengubah penampilan?