Banyak Berdana Banyak Rejeki

Saya pernah membaca buku Hukum Karma, apa pun yang kita perbuat akan membuahkan karma.
Berdana uang –> jadi kaya.
Berdana makanan –> tidak akan kelaparan.
Berdana pakaian –> akan punya banyak pakaian.
Berdana Dharma –> jadi bijaksana.

Awalnya saya tidak percaya. Tapi, beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang pergi ke luar negeri untuk jalan-jalan, dan ini bukan pertama kali dia pergi. Dia sudah beberapa kali pergi ke negara ini-itu. Setelah ditelusuri, teman ini sering memberi sumbangan untuk orang yang tidak mampu. Dia juga aktif di kegiatan sosial di tempat ibadahnya. Ada juga teman lain yang tidak pernah kekurangan apa pun, dia lahir di keluarga kaya dan mereka sekeluarga aktif di kegiatan sosial.

Jadi, jika ingin seperti mereka, harus banyak berdana. Berdana semampu kita dengan ikhlas. Mungkin karma baik tidak selalu berbuah saat ini, tapi jika kita rajin berbuat karma baik, semoga kita bisa mendapatkan hasil yang baik pula.

So, mari berdana!!
(^_^)v

1 ons ≠ 100 gram

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat email dari milis seperti yang di bawah ini. Awalnya saya tidak percaya dengan yang ditulis di email, masa sih bisa salah.. Lalu saya mencoba check di Google Search, ternyata yang dikatakan email ini benar. Masih tidak percaya juga, saya mencoba check melalui handphone, di menu Converter, dan ternyata hasilnya sama seperti yang di Google. Wah, kalau begitu sistem pendidikan di Indonesia patut dipertanyakan.. Kok bisa-bisanya salah sampai turun-temurun??


Berikut ini email yang saya dapat dari milis:
——————————————–
Coba search di google

Ketik “1 ounce”

or “1 Pound”

N you will know the truth

============ ========= ========= ========= =======

PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG

Seorang karyawan yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.

Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, karyawan tsb diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.

Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN

Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi. Ternyata, pihak Dir.Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram.

Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia. Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI?

Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.

Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini.

Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep.Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.

TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka;

“acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan
secara internasional , yang menyatakan bahwa :

1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram”?

Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain
Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram?

Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini?

Kalau Dep.Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas).. Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak.

Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram?


Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?

HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI

Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya.

Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.

Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia. Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan.

Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.

Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat.

Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan. Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.

Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.

ACUAN MANA YANG BENAR?

Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford, dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi.

Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi.

Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara
internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g)

1 pound = 453 gram (bukan 500 g)

1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)

Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!!
Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.
(ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)

KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA?

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

# # # # #

Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing.

Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas.

Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia, silahkan diperbanyak/difotocopy dan disebar-luaskan sendiri.

Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.

Terima kasih kepada anda yang peduli dan mau berpartisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia. Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.

 

> sumber: salah satu milis group yahoo

————-
So, bagaimana komentar Anda??

Krisis Dunia ≠ Krisis Mental

Saat ini banyak orang membicarakan masalah krisis ekonomi. Oleh karena sebuah perusahaan di Amerika bangkrut, negara-negara lain ikut merasakan dampaknya. ‘Krisis global baru saja dimulai’, begitu kata sebagian besar orang. Akankah kisah sedih di tahun ’98 akan terulang kembali? Sebaiknya jangan ya..

Krisis ekonomi yang sedang terjadi pasti ada dampaknya pada setiap orang. Bagi yang sudah bekerja, penghasilan mungkin tidak mencukupi untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Bagi mahasiswa atau pelajar, uang jajan mungkin tidak cukup untuk membayar ongkos. Toko-toko mungkin saja akan menjadi sepi, bahkan tutup. Perusahaan-perusahaan mungkin akan mengurangi jumlah karyawan.

Orang-orang boleh saja mengatakan sekarang sedang terjadi krisis dunia. Tetapi jangan sampai kita juga ikut-ikutan krisis, apalagi krisis mental, selalu murung dan tidak bersemangat karena memikirkan perekonomian yang semakin sulit. Siapa sih yang mau krisis terjadi? Siapa sih yang mau pusing? Pasti semua orang tidak mau kan.. Oleh karena itu, kita harus tetap bersemangat. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting sebaiknya dikurangi – kita belajar berhemat. Pada jam kerja, kita bekerja sebaik-baiknya agar perusahaan tetap mempertahankan kita. Dan yang paling penting, kita semua bersama-sama berdoa agar krisis ini segera berakhir.

Krisis Global ≠ Krisis Mental
Mental Oke = Semangat Oke
Semangat Oke = Hidup Oke

Fanatics vs. Fanatics: There will be No Peace

All of the religion in this world is good. All of the religion teaches us to be kind to others. If there is a religion who teaches ungodly, it’s not a religion. It’s a deviate religion. There is no bad religion in this world. What is the bad is the person. Ironically, some of them use their religion to destroy others or other religion. They use their religion to take the profit for themselves.

Sometimes a group of people claim that their religion is the best and say that others are not good. Sometimes they force others to follow their religion. Even they give promises so that others want to follow them. Do you know that wars occurred in some place in this world just because religion?

We may say that our religion is the best. But we should not say others is not good and force them to follow ours. We may teach the goodness to others. But we should not link it to the religion.

Religion is related to belief. If someone has convinced about their religion, then let them walk that way. In this case, if someone has chosen their religion, they must convince about their religion sincerity. If they’re not sure about their own religion, so others may influence them to change their religion.

If our friend has no religion we may show the way or give good advice to them. Of course we should not force them to follow our religion. Just give advice! People choose to follow the religion from the heart. If they take the religion not from the heart, so it won’t work. It will make them feel suffer, bother their mind and get them stressed.

The fire will not flame if there is no matches. And so wars will not occur if there is no force of others. So, let’s live in harmony. Let’s live in peace!!

Keep Silent, Please!


One day a teacher entered a classroom in Junior High School. The class was very noisy. Then, the teacher has an idea. She said to the class: “Keep silent, please! Or I’ll give you E on your report book!” Finally, the class became quiet. They were all keep silent. Then the teacher started to teach.

..

In the end of the lesson, the teacher asked some questions to the students. But, no one raised hand to answer the questions. “Did you understand the lesson we’ve learnt today?” asked the teacher. The class still silent. “Can anyone answer the question?” said the teacher again. No one answered her.

..

Suddenly, a student raised his hand timidly. He said, “You’ve told us to keep silent. If we didn’t do it, you’ll give us E on our report book. So, no one wants to answer.”

..

That’s one of my memories when I was a teacher in Junior High School..