[Review Buku] Burning Heat

Blurb:
Aku menikah dengan pembunuh suamiku. Demi menuntut keadilan.

Komentar:
Sinopsis di belakang buku cuma dua kalimat di atas! Penasaran banget, kan, apa ceritanya? Karena ini novelnya Akiyoshi Rikako, biasanya banyak plot twistnya dan nggak tertebak jalan ceritanya.

Novel ini menceritakan tentang Sakiko yang menikah dengan Tadatoki. Mereka berdua sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Karena itulah mereka merasa cocok lalu menikah. Namun suatu ketika Sakiko menerima telepon bahwa Tadatoki meninggal jatuh dari balkon sebuah apartemen. Polisi menyelidiki kasus meninggalnya Tadatoki, apakah ia dibunuh, bunuh diri, atau kecelakaan. Tak lama kemudian polisi mendapati bahwa sebelum meninggal ia bertemu dengan seorang dokter bernama Hideo. Polisi juga memberitahu Sakiko tentang kasus lainnya yang melibatkan Tadatoki. Namun tak berapa lama Hideo dibebaskan karena polisi menganggap kasus meninggalnya Tadatoki hanya sebuah kecelakaan.

Sakiko yang sangat terpukul berusaha mencari sendiri penyebab suaminya meninggal. Ia pun mendekati Hideo supaya bisa menemukan bukti bahwa Hideo adalah pembunuh suaminya. Namun sesuatu kemudian terjadi.

Rasanya aku pengen spoiler di sini. Tapi nanti kasihan yang baca. Soalnya buku ini seru banget. Aku baca buku ini cuma dua hari saja! Tumben banget baca buku 200-an halaman bisa cuma dua hari.

Oh ya, walaupun covernya bergambar kartun, buku ini 17+ ya. Jangan kasih anak-anak di bawah umur buat baca.

Cerita di buku ini simpel dan bahasanya enak dibaca. Genrenya thriller tapi nggak terlalu menegangkan. Ceritanya agak condong ke drama. Di buku ini ada beberapa pembahasan tentang dunia kedokteran. Karena bahasa kedokterannya agak njelimet, jadi harus dibaca pelan-pelan. Trus, sebenarnya bisa lah ditebak siapa pembunuhnya. Namun motifnya dan endingnya beneran plot twist! Nggak disangka. Seru banget pokoknya ceritanya!

Rating:
4/5

Informasi Buku:
Judul Buku: Burning Heat
Pengarang: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 296 halaman
ISBN: 978-623-7351-65-8

[Review Buku] Funiculi Funicula

Blurb:
Funiculi Funicula adalah nama sebuah kafe tua yang letaknya di sebuah gang kecil di Tokyo. Kafe tersebut merupakan kafe bawah tanah yang tidak mempunyai pendingin ruangan. Namun musim panas tidak mempengaruhi suhu di dalamnya. Entah mengapa hawa udara di dalamnya tetap sejuk.

Kafe ini punya sebuah keistimewaan, yaitu dapat membawa seseorang kembali ke masa lalu. Tentu saja untuk kembali ke masa lalu tidaklah mudah. Ada peraturan-peraturan yang harus dipatuhi oleh orang yang ingin kembali ke masa lalu. Peraturannya adalah masa lalu tidak dapat diubah. Orang yang ingin kembali harus meminum kopi yang dituangkan sebelum kopinya dingin, jika tidak ia tidak akan kembali dan menjadi hantu. Irang tersebut harus duduk di kursi tertentu di dalam kafe dan ia juga tidak boleh beranjak dari kursi tersebut selama ia kembali ke masa lalu.

Suatu hari seorang wanita berkunjung ke kafe tersebut agar bisa kembali ke masa lalu. Ia ingin hubungannya dengan kekasihnya kembali. Wanita bernama Fumiko tersebut lalu berkenalan dengan pegawai kafe yang bernama Kazu, istri pemilik kafe bernama Kei, dan pengunjung kafe yang nyentrik bernama Hirai. Ia juga mengenal pemilik kafe bernama Nagare dan laki-laki yang selalu duduk sambil membaca bernama Fusagi serta istrinya yang bernama Kotake. Fumiko berulang kali memohon kepada Kazu agar bisa kembali ke masa lalu namun ucapan-ucapan Kazu tentang peraturan-peraturan yang harus dipatuhi jika ingin kembali ke masa lalu membuatnya ragu-ragu. Setelah beberapa saat merasa ragu, begitu ada kesempatan, Fumiko langsung memantapkan hatinya untuk pergi ke masa lalu.

Selain Fumiko, ada beberapa orang lainnya yang juga ingin kembali ke masa lalu walaupun mereka tahu setelah kembali ke sana keadaan masa kini tak akan berubah.

Komentar:
Cerita di buku yang judul lainnya Before The Coffee Gets Cold ini benar-benar menyentuh. Orang-orang yang kembali ke masa lalu tahu mereka tidak dapat mengubah keadaan. Mereka juga tahu bahwa waktu mereka untuk pergi ke masa lalu sangat terbatas, hanya sampai kopi yang dituangkan agak dingin, setelah itu mereka harus segera meminum habis kopinya. Walaupun peraturannya seperti itu, mereka tetap pergi. Dan setelah mereka kembali lagi ke masa kini, ada perasaan lega menyelimuti mereka.

Di dalam buku ini ada banyak tokoh. Itu sangat membingungkan di bagian awal. Karena begitu membaca buku sudah disuguhi beberapa nama dengan latar belakang yang berbeda-beda, ditambah lagi alurnya maju-mundur-maju-mundur, makin pusing. Namun setelah beberapa halaman barulah mengerti ternyata ceritanya memang seperti itu. Lalu akhirnya bisa mengenal semua karakter yang ada dalam buku.

Buku ini cocok dibaca di waktu luang. Bukunya bercerita tentang persahabatan dan keluarga. Ceritanya keren dan mengharukan. Namun nggak sampai membuat nangis-nangis ya. Pokoknya kerenlah.

Quotes:
Aku terbawa suasana dan hanya fokus kepada hal-hal yang tidak bisa kuubah sampai-sampai melupakan sesuatu yang paling penting.” ~hlm.221.

Kekuatan hati cukup bagi seseorang untuk melewati kenyataan yang dihadapinya, sepahit apa pun kenyataan itu. Meskipun tak bisa mengubah kenyataan, asalkan masih ada hati yang tergerak untuk berubah …. ~hlm.223

Rating:
4/5

Informasi Buku:
Judul Buku: Funiculi Funicula Before The Coffee Gets Cold
Pengarang: Toshikazu Kawaguchi
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 224 halaman
ISBN: 978-602-065-1927

[Review Film] Voice of Silence

WARNING: Postingan ini mengandung SPOILER

Cerita:
Film ini mengisahkan tentang Tae In dan Chang Bok yang bekerja sebagai petugas pembersih Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan oleh para kriminal. Mereka disewa oleh orang-orang jahat (gangster) yang menyiksa dan membunuh seseorang. Tae In dan Chang Bok membersihkan tempat kejadian penyiksaan lalu membuang mayat tersebut ke lokasi-lokasi yang jauh agar tidak ditemukan polisi.

Chang Bok adalah seorang laki-laki paruh baya yang cacat pada kakinya. Ia mengendarai mobil dan membawa beberapa rak berisi telur untuk menutupi pekerjaan aslinya. Setiap ada ‘pekerjaan’, ia akan menjemput Tae Il dengan mobilnya lalu mengantarnya pulang setelah pekerjaan selesai. Tae Il adalah pemuda tanggung yang tidak dapat berbicara. Ia selalu menuruti perintah Chang Bok karena ia tidak punya pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang.

Suatu hari Chang Bok ditelepon seseorang untuk datang ke sebuah tempat. Di tempat itu ia dan Tae Il harus menjemput seseorang. Saat tiba di sana, ternyata yang harus dijemput adalah anak perempuan berusia 11 tahun. Chang Bok meminta penjelasan pada ‘bos’ namun si ‘bos’ menyuruhnya membawa anak tersebut pulang. Ia pun terpaksa membawa anak itu ke mobilnya dan memaksa Tae Il untuk menampung anak tersebut. Tae Il tadinya ngambek namun akhirnya terpaksa membawa anak tersebut ke rumahnya. Anak yang bernama Cho Hee tersebut lalu tinggal di rumah Tae Il yang super berantakan. Ternyata di dalam rumah ada seorang anak kecil berumur 5 tahun yang mengaku sebagai adiknya Tae Il.

Masalah bertambah besar karena ternyata ‘bos’ yang memerintahkan Chang Bok tewas. Orang-orang yang terlibat dalam penculikan anak tidak mau bertanggung jawab dan melimpahkanpada Chang Bok. Mereka memanfaatkan Chang Bok untuk meminta uang tebusan pada ortu si anak perempuan. Di rumah Tae Il, Chang Bok menyuruh si anak menulis surat untuk orangtuanya. Cho Hee menurut saja apa yang diperintahkan walaupun sebenarnya ia juga mencari cara agar dapat melarikan diri. Selama tinggal bersama Tae Il dan adiknya, Cho Hee banyak mengajarkan adik perempuan Tae Il misalnya melipat pakaian, membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan mewarnai. Tae Il dan Chang Bok sendiri tidak berlaku kasar padanya dan malah menganggapnya seperti keluarga.

Saat Chang Bok dan Tae Il pergi bertugas, Cho Hee dibawa juga supaya mereka bisa sekaligus mencari cara untuk mengembalikan anak tersebut dan mendapatkan uang. Namun mereka terus menemukan masalah. Hingga suatu hari mereka disarankan untuk menemui seseorang yang dapat meminta uang tebusan sekaligus menampung Cho Hee.

Komentar:
Aktingnya Yoo Ah In yang berperan sebagai Tae Il benar-benar mengagumkan. Di sini ia berperan sebagai orang yang ‘kurang’ dan tidak dapat berbicara. Penampilannya lusuh dan seperti anak jalanan. Tae Il senang mengoleksi barang-barang milik mayat yang ia ‘bereskan’ bersama Chang Bok. Di sini penampilannya benar-benar beda! Aku pernah nonton filmnya Yoo Ah In berjudul Chicago Typewriter, di sana dia berperan sebagai pemuda keren dan berpenampilan bersih. Tidak seperti di film Voice of Silence ini. Lucu banget mukanya di film Voice of Silence ini saat ia tertidur dalam mobil.

Alur cerita film ini menurutku agak nyentrik. Cerita tentang orang-orang pekerjaannya nggak biasa, pembersih tempat kejadian perkara. Trus yang membersihkan adalah orang-orang biasa, bukan yang elit pakai teknologi canggih. Modal Chang Bok dan Tae Il hanyalah pakaian kerja dari plastik, sarung tangan plastik, sepatu karet, plastik meteran yang besar, pembersih dan sekop/cangkul. Saat menguburkan mayat mereka berdoa terlebih dahulu.

Dalam film ini, Chang Bok dan Tae Il tuh istilahnya ketibanan. Mereka sebenarnya nggak mau menampung si Cho Hee. Tapi mereka juga nggak mau kalau kerjaan mereka nggak dibayar. Mereka sudah keluar uang untuk pergi mengambil Cho Hee dan memberinya makan saat menampungnya. Dilema bagi mereka.

Pada akhirnya Tae Il tidak tega menyerahkan Cho Hee ke tempat penampungan khusus untuk anak-anak yang diculik untuk dimintai tebusan. Tae Il nekad membawa Cho Hee kembali ke rumahnya. Bahkan saat Cho Hee sakit, ia yang biasa mengayuh sepeda pergi ke apotek untuk membeli obat. Ia juga mencari Cho Hee saat anak itu hilang. Sungguh film yang mengharukan. Itulah mengapa judulnya Voice of Silence, jadi intinya dalam kebisuan ada ‘suara’, yaitu bagaimana sikap tokoh yang bisu tersebut dalam menghadapi situasi.

Film ini ceritanya oke, akting para pemainnya juga keren, tapi sayang sekali endingnya nggak greget! Biasa saja.

Rating:
8/10

Informasi Film:
Judul Film: Voice of Silence / Without a Sound
Rilis: Oktober 2020
Negara: Korea Selatan
Genre: Thriller, drama
Pemain:
Yoo Ah In sebagai Tae Il
Yoo Jae Myung sebagai Chang Bok
Moon Seung A sebagai Cho Hee

[Review Buku] 7 Years of Darkness

Sinopsis:
Novel 7 Tahun Kegelapan karangan Jeong You-Jeong ini mengisahkan tentang kehidupan Choi Seo-won, anak seorang terpidana hukuman mati atas tuduhan pembunuhan terhadap gadis kecil dan beberapa penduduk desa Kota Seryeong. Sejak ayahnya ditangkap polisi, kehidupan Choi Seo-won kecil kacau balau. Selama 7 tahun ia harus berpindah-pindah karena seseorang misterius selalu menguak identitasnya sebagai anak seorang pembunuh. Suatu hari, Seo-won menerima paket yang menuntunnya mengungkapkan rahasia tentang kejadian tujuh tahun yang lalu.

Komentar:
Buku ini ditulis dengan sudut pandang berbeda-beda. Tentu saja yang paling utama adalah sudut pandang dari Choi Seo-won, sang tokoh sentral. Selain itu, ada sudut pandang dari beberapa tokoh yang terlibat dalam kejadian ‘7 tahun yang lalu’. Awalnya memang agak membingungkan. Apalagi alurnya terasa agak lambat di bagian awal dan terkesan bertele-tele. Namun semakin ke belakang, cerita terasa makin seru sampai-sampai rasanya tidak ingin berhenti membaca.

Di buku ini ada tokoh Choi Hyeon-su, ayah Seo-won. Hyeon-su diterima bekerja di Kota Seryeong sebagai Ketua Tim Keamanan. Ia mengendarai mobil di saat mabuk dan menabrak seseorang. Tokoh selanjutnya adalah Ahn Seung-hwan. Ia tinggal di mess yang sama dengan keluarga Hyeon-su. Ia menyimpan rahasia yang terkait dengan kejadian pembunuhan di Seryeong. Kemudian ada Oh Yeong-je, dokter gigi di Kota Seryeong. Ia adalah ayah dari gadis kecil yang tewas. Tokoh terakhir adalah Kang Eun-ju, ibu Seo-won. Memang, selain tokoh tersebut ada tokoh lainnya. Namun penulis tidak bercerita dari sudut pandang selain tokoh-tokoh di atas.

Gaya penulisan dari sudut pandang yang berbeda membuat buku ini jadi menarik untuk dibaca. Penulis menceritakan kisah-kisah secara rinci untuk mengajak pembaca merasakan emosi yang dialami oleh setiap tokoh cerita. Selain dari segi sudut pandang, novel ini banyak memberi pengetahuan tentang dunia menyelam, dunia bisbol dan sistem kerja waduk. Bahasa terjemahannya pun enak dibaca.

Setelah membaca novel yang cukup tebal ini, ada beberapa pelajaran mengenai kehidupan yang dapat dipetik. Misalnya selalu ada alasan di balik tindakan seseorang. Jangan buru-buru menghakimi. Dalam hidup ini ada banyak pilihan, apakah kau akan memilih yang dapat memperbaiki hidupmu atau malah yang menghancurkan hidupmu? Atau, apakah kau akan terus jadi pengecut yang selalu menghindari masalah?

Rating:
4/5

Informasi Buku:
Judul Buku: 7 Tahun Kegelapan (7 Years of Darkness).
Pengarang: Jeong You-jeong.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama.
Tahun Terbit: 2020.
Jumlah Halaman: 560 halaman.

Bersama Buku Berpetualang Menembus Ruang dan Waktu

Aku mengenal buku sejak kecil. Dulu, ibu dan kakek-nenekku sering membelikan aku buku cerita anak-anak. Aku ingat saat aku masih kecil sering dibacakan cerita oleh ibuku. Awalnya aku dibelikan majalah anak-anak. Lalu, ketika aku sudah bisa membaca aku dibelikan buku cerita. Bukunya mulai dari yang ukurannya kecil sampai ke ukuran yang besar. Ada buku yang tipis dan ada juga yang tebal. Terkadang, orang tuaku membelikan buku pengetahuan juga. Aku ingat dulu aku punya buku tentang tanaman, hewan, bumi, alam semesta, hutan, dan lain-lain. Senang sekali rasanya membaca buku yang penuh dengan ilustrasi itu. Warna-warninya sungguh menarik perhatian.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar, aku mengenal yang namanya perpustakaan. Aku sering meminjam buku dari perpustakaan. Saat ada waktu luang, aku akan mampir ke perpustakaan. Kebiasaan ini berlanjut sampai aku SMA. Buku-buku yang sering aku baca saat itu adalah buku karangan Enid Blyton. Bersama buku-buku karangan beliau aku ikut berpetualang ke desa-desa dan rumah-rumah besar yang di dalamnya banyak lorong-lorong rahasia. Ada Lima Sekawan yang menemani petualanganku. Rasanya seru sekali saat mendapatkan penemuan-penemuan yang ada di buku. Terkadang aku ikut merasa lapar juga ketika membaca tentang hidangan yang disajikan untuk Lima Sekawan. Sungguh buku-buku ini membangkitkan selera makanku!

Di masa SMP dan SMA buku yang aku baca tidak terlalu banyak. Aku ingat saat itu aku membaca buku-buku karangan R.L. Stine. Oleh beliau aku diajak berpetualang ke Fear Street. Aku dikejutkan oleh hantu-hantu dengan berbagai bentuk dan rupa. Aku mengalami malam-malam yang mencekam. Apakah ada yang mengintai dari bawah kolong ranjangku? Atau … ada sesuatukah di balik tirai jendelaku? Lalu, ketika kudengar lolongan anjing di malam hari aku mengira-ngira apakah monster hijau dari buku Goosebumps sedang mengendap-endap menuju ke rumahku. Ugh! Sungguh menyeramkan! Namun aku suka. Ada tantangan tersendiri ketika membaca buku-buku bergenre horor dan misteri seperti ini. Aku sedikit demi sedikit belajar melawan rasa takutku.

Memasuki masa-masa kuliah dan awal bekerja buku-buku yang aku baca mulai berkurang. Aku bahkan tidak ingat buku apa saja yang aku baca. Mungkin hanya beberapa majalah saja. Saat kuliah, kesibukan menyita waktuku. Ditambah lagi perjalanan menuju kampusku sangat jauh dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tiga puluh dua kilometer adalah jarak yang harus kutempuh. Seharusnya aku bisa membaca novel saat duduk di bus. Namun, bacaanku saat berada di bus hanya buku kuliah dan selebihnya mengantuk di perjalanan. Kadang-kadang aku juga mengobrol dengan teman seperjalanan dan seperjuanganku.

Setelah bekerja, aku lebih merdeka untuk memilih buku yang menarik minatku karena sudah punya uang sendiri. Aku senang pergi ke Toko Buku Gramedia yang berada di dekat tempat kerja pertamaku. Hampir setiap pulang kerja aku ke sana. Ada banyak buku-buku bagus di toko tersebut. Saat itu aku lebih tertarik dengan genre romance. Buku-buku karangan Meg Cabbot dan Sophie Kinsella menjadi pilihanku. Membaca buku-buku bergenre ini serasa menonton drama atau sinetron dengan episode yang pendek. Aku bertemu dengan berbagai jenis wanita dan pria. Aku berpetualang ke dunia Barat. Ah, apakah ini adalah perjalanan ke Barat? Mungkin iya. Tapi bukan bersama Bhiksu Tong, Sun Gokong, atau Chu Patkai. Aku ke Barat bersama dengan wanita-wanita keren dari berbagai profesi. Yah, tapi ada kalanya slogan Chu Patkai berlaku di buku-buku drama ini, “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.” Duh! Nyesek! Akhirnya, aku mulai beralih ke genre lain karena tak tahan dengan derita tersebut.

Selama masa pandemi, buku yang kubaca mulai bertambah. Jika biasanya aku menghabiskan satu buku dalam dua bulan, di masa pandemi ini aku bisa baca dua buku dalam sebulan. Aku bahkan memasang target untuk membaca 24 buku di tahun 2021 ini. Buku-buku yang kubaca kebanyakan bergenre thriller. Oh ya, karena masa pandemi ini masa yang sulit, aku hanya mengincar buku-buku diskonan – buku asli dan bukan bajakan. Kita harus menghargai hasil karya para penulis dengan membeli buku asli. Dan, masih mending beli buku preloved yang asli daripada buku baru tapi bajakan.

Saat wabah Covid-19 melanda muka bumi, aku berpetualang ke berbagai negeri. Mari kita rincikan ke mana saja aku. Melalui buku School Nurse Ahn Eunyoung karangan Chung Serang, aku berpetualang ke Negeri Ginseng. Di Korea sana aku ikut membasmi hantu berbentuk jeli yang ada di sekolah tempat Perawat Eunyoung bekerja. Selain ke sekolahnya Perawat Eunyoung, aku ke tempat Mr. Lee yang dapat melihat makhluk halus. Di buku Mr. Lee Clean Center karangan Joung-Hee Kwon, aku ikut melihat proses membersihkan ruang bekas ditemukannya mayat. Aku ikut merasa mual tapi sekaligus merasa kasihan pada orang-orang yang tewas. Perasaan ngeri ikut menyelimuti diriku saat ada kasus pembunuhan di buku ini. Kengerian tidak berakhir sampai di sini, masih ada kengerian lainnya di buku The Good Son karangan Jeong You-Jeong. Anak yang baik itu seperti apa? Kenapa ia bisa menemukan ibunya sendiri mati bersimbah darah di rumahnya? Ah, manusia-manusia ini … kenapa begitu tega menghabisi nyawa seseorang demi mendapatkan apa yang ia inginkan?

Dari Korea aku menuju ke Negeri Sakura. Di sini aku berpetualang ke masa lalu sambil sesekali kembali ke masa kini. Melalui buku Keajaiban Toko Kelontong Namiya karya Keigo Higashino aku melihat kehidupan orang Jepang pada masa lalu. Ada tiga orang yang iseng membalas surat-surat yang datang ke Toko Kelontong Namiya tempat persembunyian mereka. Keisengan mereka mengantarkan mereka pada petualangan yang mengubah hidup mereka. Di sini aku belajar bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia. Kebaikan walau sekecil apapun sangat bermanfaat bagi seseorang yang membutuhkan dan kebaikan itu sendiri tentunya akan kembali kepada si pemberi. Sungguh buku yang membuat terharu!

Petualanganku berlanjut sampai ke Australia. Aku dibuat gemas oleh anak perempuan yang mengaku-ngaku sebagai anak lainnya di buku Only Daughter karangan Anna Snoekstra. Beck adalah anak yang hilang sepuluh tahun lalu. Kemudian muncul Beck palsu. Beck palsu ingin merasakan kehidupan yang layak bersama orang tua yang bisa dibilang berada sekaligus untuk menyelamatkan dirinya dari incaran polisi juga. Keluarga Beck nampak harmonis namun tentu saja kita tak boleh menilai sesuatu dari tampak luarnya saja. Bahkan bunga mawar yang cantik memiliki duri yang dapat melukai jari kalau tak hati-hati.

Setelah ke Australia, mari lanjutkan perjalanan ke Ljubljana, Slovenia untuk menemui Veronika. Dalam buku berjudul Veronika Memutuskan untuk Mati karangan Paulo Coelho aku diajak melihat Rumah Sakit Jiwa tempat Veronika dirawat setelah menenggak beberapa butir pil tidur. Veronika yang masih muda dan cantik memutuskan untuk mati. Sedih sekali jika ada orang yang berpikir untuk mati. Apa yang ia alami? Terkadang, orang bisa dengan mudahnya berkata, “Segitu saja, kok! Lembek amat! Enjoy ajalah!” Namun bagi orang lain tentu tidak semudah itu, Fergusso! Apalagi jika yang kauhadapi adalah orang depresi. Gunakan empatimu!

Masa pandemi ini benar-benar membuatku harus beradaptasi. Dari yang tadinya bisa kerja full seharian, sekarang harus bekerja di waktu yang terbatas. Bahkan di awal pandemi aku hanya bekerja dari rumah. Belum lagi tuntutan pekerjaan terasa begitu berat. Namun buku-buku sungguh menghiburku. Selain buku-buku yang aku sebutkan di atas, masih banyak buku lainnya yang aku baca. Bersama buku aku melupakan sejenak kepenatanku. Walaupuun di masa pandemi ini aku membatasi diri untuk tidak terlau banyak kumpul-kumpul atau pergi ke mana-mana, namun bersama buku aku dapat berpetualang menembus ruang dan waktu. Melalui buku aku beradaptasi menjadi manusia yang mendapat banyak pengetahuan baru.