Sistem Zo Nasi

Mari bercerita….

1. Di minimarket

Seorang ibu-ibu mampir ke minimarket dekat kantornya sebelum perjalanan pulang ke rumah.

Ibu-ibu : “Mbak, saya beli ini. Berapa total harganya?”
Kasir : “Ibu tinggal di mana?”
Ibu-ibu : “Di km 12. Kenapa memangnya, Mbak?”
Kasir : “Maaf, Bu. Sekarang ada sistem Zo Nasi. Ibu nggak bisa belanja di sini.”
🙄

2. Lowongan Pekerjaan

Ada reunian SMA di sebuah cafe. Setelah basa-basi yang akhirnya basi, obrolan bergeser ke topik lowongan pekerjaan.

A : “Eh, ada lowongan kerja di kantor gue.”
B : “Oh ya? Bagian apa?”
A : “Staf admin. Ada yang mau ngelamar?”
C : “Aku mau. Sudah 3 bulan ngganggur, nih! Syaratnya apa?”
A : “Kamu tinggalnya di mana?”
C : “Di daerah Inu.”
A : “Wah, jauh banget. Syaratnya tempat tinggal harus dekat kantor. Maklumlah sekarang ada sistem Zo Nasi.”
🙄

3. Pacaran, Yuk!

Setelah kurang lebih tiga bulan pedekate, seorang cowok ngajakin gebetannya makan di sebuah resto di mall. Padahal biasanya ngajak ke kantin doang. Iya, dong! Harus ke tempat yang agak wah, gitchuu.. Maklum, mau nembak si gebetan.

Cowok : “Ehm… Dek.”
Cewek : “Apaan, Bang?”
Cowok : “Adek mau nggak jadi pacar Abang?”
Cewek : “Nggak, ah, Bang!”
Cowok : “Lho, kenapa? Kita kan udah dekat.”
Cewek : “Siapa bilang, Bang? Rumah abang jauh banget dari rumahku.”
Cowok : “Trus kenapa? Kan abang bisa naik motor ke rumah adek.”
Cewek : “Maaf, Bang. Sekarang ada sistem Zo Nasi.”
Cowok : “Halah…”

Niat mau nembak, eh malah kena tembak gara-gara sistem Zo Nasi. Hadeuh! Ckckck…

4. Makan

Daripada pusing mikirin sistem Zo Nasi, ayok kita makan Nasi beneran.

Mari makan… 😁

Advertisements

Buat Kamu yang Butuh Semangat: Ayo Semangat!!

Orang yang sering membuatmu tersenyum, orang yang sering memberi semangat, sesungguhnya juga butuh diberi semangat oleh orang lain.

Ada kata bijak yang pernah aku baca, yang intinya seperti di atas. Orang yang peduli sesungguhnya juga butuh dipedulikan.

Tapi sayangnya nggak semua orang bisa peduli. Nggak semua orang bisa dan mau memberikan semangat pada orang lainnya. Kebanyakan hanya cuek saja. Atau hanya…. yah melihat saja.

Nggak masalah, sih…. Mau peduli atau nggak. Mau memberikan semangat atau nggak. Mau balas tersenyum atau nggak. Itu tergantung pribadi masing-masing.

Yang mau aku ceritakan di sini adalah ada seorang teman yang selalu memberikan semangat. Dia oke dalam memberikan nasihat. Dia pendengar yang baik. Nasihatnya selalu masuk akal. Dan dia orang yang ceria.

Tapi…. siapa sangka justru dialah yang butuh semangat dan dorongan dari orang lainnya, dari sahabat-sahabatnya yang sering curhat dengannya. Karena semua tidak menyadarinya saat dia membuat status “Semangat!” atau “Semoga aku bisa!” atau “Smile!” atau yang lainnya…. Karena sesungguhnya dia menulis status itu di medsos adalah untuk dirinya sendiri yang sedang ‘down’ dan butuh disemangati. Bukan untuk menyemangati orang-orang yang baca. Orang-orang tak menyangka dia butuh disemangati karena dia adalah orang yang ceria dan energik.

Di balik senyuman yang ceria tersimpan luka, kekecewaan, kesedihan, keputus-asaan yang mendalam. Tak ada yang tahu itu. Dan tidak ada yang menyadarinya.

Kalau kalian membaca di medsos ada teman yang sepertinya butuh diberi semangat, nggak ada salahnya memberikan semangat.

* * *

Buat kamu yang butuh diberi semangat
Tak apa-apa kalau kamu sesekali meminta untuk diberi semangat
Tak masalah kalau kamu sesekali mengeluh
Kamu bukan robot
Kamu manusia
Sama seperti temanmu yang lain yang selalu kau beri semangat
Semangatlah!
Kamu bisa!

 

Selamat untuk Teman yang Setia

Aku punya teman cowok. Temanku ini dulu pas masih jaman kuliah hobi banget chattingan sama cewek-cewek. Entah berapa banyak teman chat-nya. Kalau lagi kumpul bareng, hape nggak pernah lepas dari tangannya. Buat apa? Ya buat balas chattingan dari teman-teman ceweknya.

Kadang-kadang aku dan temanku yang lain sering menyindir dia karena kebiasaannya itu. “Eh, sebenarnya kamu tuh sukanya sama siapa, sih? Banyak banget teman chat kamu! Lengket banget tuh hape sama tanganmu!” Tapi si teman ini biasa-biasa saja disindir kayak gitu. Dan entah kenapa dia bisa banyak kenalan sama cewek-cewek. Dan kenapa cewek-cewek suka banget chat sama dia. Mungkin di chat dia orangnya asyik.

Suatu hari temanku ini curhat bahwa dia suka sama seorang cewek. Akhirnya! Setelah sekian banyak cewek yang dia chat, dia naksir juga sama seseorang!! Cewek yang ditaksirnya tuh adik tingkat. Dari universitas lain.

Kalau ada teman yang senang, ya kita harus ikut senang dong, ya! Jadi, aku dan temanku yang lain mendukung dia supaya bisa jadian sama adik tingkat dari kampus lain itu. Kami memberinya semangat. Dan akhirnya dia beneran bisa jadian sama adik tingkat itu.

Ada satu pesan untuk dia yang aku nggak pernah lupa. “Kalau kamu sudah jadian sama si adik itu, kamu jangan lagi kenal-kenalan atau chatting-chattingan sama cewek lain. Apalagi chattingan yang nggak penting. Kalau urusan kuliah, pekerjaan, atau organisasi itu lain ceritanya. Kalau sekadar haha hihi apalagi sampai keseringan curhat, jangan banget!! Hargai perasaan pacarmu. Setialah! Seriuslah!”

Aku bilang begitu karena takut nanti pacarnya cemburu. Kita nggak tahu kan hati orang bagaimana. Mungkin dia tersenyum saja saat pacarnya chattingan nggak penting atau kenalan sama cewek lain. Tapi, hatinya siapa tahu? Dan berdasarkan pengalaman juga sih. Rasanya sakit banget tau pacar kita malah lebih asyik chattingan sama cewek lain daripada sama pacarnya sendiri. Atau, dia lebih senang ngelike dan saling kirim comment di medsos cewek lain daripada di postingan kita. Untung kisah itu sudah berakhir. Kan makan ati kalau begitu.

Temanku benar-benar menuruti nasehatku. Dia nggak pernah lagi chattingan atau kenal-kenalan sama cewek-cewek. Chattingan yang seperlunya saja. Curhat sama aku juga sangat jarang. Komentarin status pun sangat sangat jarang. Paling ngasih like aja dan itupun nggak di semua postingan.

Beberapa minggu yang lalu, temanku mengabari bahwa dia akan menikah dengan pacarnya si adik tingkat itu. Horee!! Aku ikut senang. Temanku sudah lama pacaran dengan si adik tingkat. Akhirnya mereka akan menikah. Selamat buat temanku!!

Aku selalu salut buat orang seperti temanku ini. Dia bisa setia. Dia bisa menjaga hati. Dia serius dalam berpacaran dan memikirkan masa depan. Aku tahu itu dari pacarnya saat kami bertemu, mereka sama-sama menabung untuk biaya pernikahan. Semoga banyak orang yang bisa setia dan menjaga hati seperti temanku ini.

Inikah Deja Vu?

Hari ini aku dan teman-temanku mengunjungi kota Pagaralam. Kami menginap di Vila Gunung Gare. Pas sampai di depan, di gedung bagian resepsionis aku merasa oernah berada di sini. Ini seperti di mimpiku.

Entah kapan, mungkin beberapa bulan yang lalu aku pernah mimpi ke tempat seperti gedung resepsionis ini. Lingkungan sekitarnya juga. Seingatku, dalam mimpi itu ada pesta pernikahan. Tapi aku nggak ingat pestanya siapa. Mimpinya juga agak aneh. Aku agak tersesat di tempat sebesar ini.

Hari ini, pas di sini aku dan teman-teman cuma menginap semalam saja. Aneh sekali rasanya berada di tempat yang pernah dikunjungi dalam mimpi.

Kalian pernah nggak mengalami kejadian seperti ini?

Memaafkan dan Ikhlas

Maaf…
Mudah diucapkan, tetapi apa iya
kesalahan yang dilakukan
dijamin tidak akan diulangi?

Memaafkan…
Mudah diucapkan, tetapi apa iya
tidak akan mengingat-ingat lagi
kesalahan yang dilakukan orang?
Apa iya, bisa melupakan
sakit hati akibat perbuatan orang?
Apa iya, tidak akan mendendam
atau masih mau berteman
dengan yang sudah menyakiti?

Belum tentu…

Apalagi jika sudah terlanjur sakit hati
Terlampau banyak disakiti
Hingga menganggap semua perbuatan
orang yang menyakiti itu keji
Tak akan ingat lagi
Bahwa seseorang itu
pasti pernah berbaik hati
Tetapi jika sudah makan hati
Dendam pun bisa dibawa mati

Ikhlas…
Itu kuncinya

Tapi apa iya bisa ikhlas?
Apa iya bisa merelakan?
Biarlah orang berbuat jahat terhadap kita
Suatu saat dia akan menanggung akibatnya
Biarlah orang menyakiti kita
Yang penting jangan kita yang jahat
atau menyakiti orang lain

Bisa seperti itu?
Ikhlas minta maaf?
Ikhlas memaafkan?

Entahlah…

Meminta maaf
Bisa setulusnya dan seikhlasnya

Tetapi memaafkan
Perlu waktu
Butuh usaha
Semoga bisa

———–

Untuk kata-kata yang tak terjaga, janji yang tak terpenuhi, hati yang kerap berprasangka. Dengan penuh keikhlasan, mohon maaf lahir dan batin…

Mudik

Tak terasa sudah memasuki bulan Juni. Awal bulan ini ada hari raya Lebaran. Karena hari rayanya di awal bulan dan pas di tengah-tengah minggu, jadi liburannya panjang. Oh ya, ditambah pula hari Sabtu ini tanggal merah, jadi liburnya pas satu Minggu. Horee!!

Mulai dari awal minggu lalu, semua sudah sibuk bikin rencana liburan. Rata-rata mau mudik. Ada juga yang liburan.

“Kamu berangkat tanggal berapa?” tanyaku pada teman.

“Tanggal 1,” jawabnya.

“Naik apa?” tanyaku lagi.

“Naik kereta.”

“Wah, serunya naik kereta.”

“Kalau aku mudiknya naik motor,” kata teman yang lain.

“Wah, serius? Berapa lama perjalanannya?” tanyaku.

“Nggak lama. Paling 2 jam,” jawab teman yang mau naik motor.

“Soalnya anakku nggak bisa naik mobil,” katanya lagi.

Teman yang lain lagi ada yang mudiknya naik mobil travel.

Aku nggak ada tempat buat mudik. Kampung halamanku ya di kota yang sekarang. Daerahnya agak pinggiran sih. Jadi anggaplah sekarang sudah mudik. Mudik naik motor. Dan kalau nggak pakai motor, bisa naik mobil atau naik bus juga. Hahaha.

Naik kereta sebenarnya pengen. Di sini ada LRT (Light Rail Transit). Tapi aku belum pernah naik itu. Bulan ini ada liburan, tinggal cari waktu yang pas buat naik LRT.

Ada teman yang mudik dan ada juga yang liburan. Serunya… Buat kalian yang mau mudik atau liburan, semoga semuanya aman dan lancar.

Bye Bye BBM

Jadi ceritanya hari ini BBM resmi tidak beroperasi lagi, gaes. Tanggal 31 Mei 2019 ini adalah hari terakhirnya pengguna BBM bisa menggunakan aplikasi BBM atau BlackBerry Messenger. Beritanya ada di detik.com. Klik aja di sini.

BBM dulu sempat booming. Aku ingat dulu kalau mau kenalan sama orang, yang dikasih adalah pin BB. Nomor telepon tuh pantang diberikan ke orang yang baru dikenal. Alasannya: kalau seandainya kenalan baru itu nyebelin ya tinggal didelcont (delete contact) aja. 😁 Hidupmu nggak bakal terganggu kalau dia nggak tahu nomor hapemu. Dulu tuh men-delcon dan di-delcon tuh sudah biasa.

Trus, di BBM ada yang namanya perang status. Lagi kesal sama seseorang, tulis di status. Trus orang yang lagi dikeselin balas bikin status juga. Pokoknya balas-balasan gitulah. Wkwkwkwk. Dan kalau tulis-tulis status gitu, nanti ada yang merasa-dirasa-terasa. Statusnya ditujukan buat si A, tapi yang merasa si B, si C, si D, si E, dll. Hadeuh! Panjang deh urusannya.

Selain itu, kalau pas chatnya pending, langsung deh bikin status: “Pending.” Atau kalau chat nggak dibalas, bikin status juga: “Aa, baca chatnya.” Dan kalau BBMnya cuma dibaca tapi nggak dibalas: “BBM diread doang. Cape deehhh!”

Memangnya di aplikasi chatting lain nggak bisa? Bisa, sih. Di WhatsApp. Tapi menurutku nggak seseru pas zaman BBM. Di WA bisa juga bikin-bikin status dan pasang gambar-gambar di WA Story. Masih bisa sih ngalay kayak pas zaman BBM. Lagi lesu atau bete ya tinggal tulis aja: “LGBT.” Mau kode-kodein gebetan bisa juga. Tapi jangan berharap banyak. Kalau dianya nggak peka, lo bakal kecewa. Haha.

BBM udah nggak ada lagi. Gantinya ada banyak. Ada Whatsapp, ada chat di Instagram. Ada chat di Twitter. Ada chat di Facebook. Ada Line. Dan lainnya. Kalau aku sih biasanya di WA dan ig aja. Line buat grup kerja sama baca berita dan dapat promo toko. Di fb jarang. Males juga install aplikasi FB Messengernya. Dulu aku install tapi sekarang sudah dibuang. Nah kalau Twitter, paling cuma buat update status aja sama baca statusnya orang lain.

Chatting-chattingan tuh seru sih. Tapi kalau lo udah punya pacar, hargai dong perasaan pacar lo. Masa lo chattingan yang bukan urusan kerjaan sama teman lawan jenis? Hahahihi sana-sini. Dan yang lebih parah, sampai harus menutupi dari pacar biar nggak ketahuan olehnya lo chatting-chattingan. Sampai bohong segala. Duh! Kan bikin kesel dan nyesek kalau kayak gitu. Bukannya nggak boleh chattingan, tapi kalau nggak penting, ngapain? Apalagi kalau sampai ade’-ade’an sama teman chatting lo, trus say good nite and good morning atau selamat makan, de-el-el yang sering banget. Sebenarnya pacarnya yang mana sih? Hmmm….

Aplikasi chattingan seperti BBM atau yang lainnya tuh bagus sih, asal tau diri dan bisa jaga diri dalam penggunaannya.

Psstt… BBM yang sudah nggak ada lagi tuh ibaratnya pacar yang sekarang sudah jadi mantan. Kalau posisinya sudah jadi mantan, lo mesti move on dong! Nggak ada BBM, lo nggak bakal mati. Begitu juga kalau nggak ada pacar, lo juga nggak bakal mati. Kan masih ada yang lainnya? Whatsapp, Line, Twitter, Instagram, Facebook, dan lainnya. Tinggal pilih yang sesuai kebutuhan. Nggak ada pacar, masih banyak teman dan keluarga di sisi lo.

Sekarang nggak ada lagi BBM. Bye bye BBM. Makasih banget dulu pernah jadi aplikasi yang banyak membantu dalam banyak hal.