Cerita Cikrak

ini namanya cikrak

Beberapa hari yang lalu dua ruang di tempat kerjaku dicat. Ruangan itu dindingnya sudah kotor. Nggak semuanya juga, sih. Hanya di beberapa bagian. Dari 4 sisi, ada 2 sisi yang kotor. Tapi penghuni barunya minta agar ruangannya dicat.

Seorang bapak dipanggil untuk mengecat ruangan. Sebelum ruangannya dicat, bapak ini membersihkan dulu dindingnya. Ada bekas lem, selotip dan apapun yang menempel di dinding yang mau dicat, semuanya dilepaskan. Biar lebih bersih dan lebih mudah saat mengecatnya.

Nggak butuh waktu lama, sore hari sekitar jam setengah 6 sore kedua ruangan selesai dicat. Si bapak meminjam sapu. Setelah menyapu ruangan, si bapak mengatakan mau meminjam barang lain.

“Cikraknya mana, Ceh?” tanya bapak itu padaku.

Aku bengong. Cikrak tuh apa? Apakah itu lagu ‘Cikrak cikrak di dinding. Diam-diam merayap. Datang seekor nyamuk…..

Tapi aku pikir kalau orang menyapu biasanya harus ada sekopnya. Jadi kuberikan sekop yang ada di ruanganku. Si bapak tidak bertanya-tanya lagi. Rupanya tebakanku benar. Cikrak = sekop. Jadi, aku langsung mencari arti kata cikrak di Google.

Kata ‘cikrak‘ berasal dari bahasa Jawa, disebut juga dengan ‘engkrak’. Menurut KBBI cikrak artinya keranjang untuk mengambil dan membuang sampah. Sedangkan menurut Wikipedia Indonesia, cikrak adalah pengki. Biasanya terbuat dari bambu yang dianyam tanpa gagang. Biasanya dijual bersama dengan tempat sampah bambu sebagai pasangan alat kebersihan yang berbasis lingkungan. Nah, cikrak zaman now terbuat dari plastik, soalnya aku nggak pernah lihat cikrak terbuat dari bambu.

Jadi, cikrak tuh dari bahasa Jawa. Pengki bahasa Indonesianya. Sekop bahasa saya. 😀

Advertisements