5 Hal Tentang Menulis Fiksi

Hidup tanpa fiksi tuh bagaikan makan sayuran tanpa nasi

Rasanya ada yang kurang kalau nggak baca fiksi atau bikin fiksi. Drama juga termasuk fiksi. Tapi aku belum sanggup menyaingi pembuat serial drama Korea yang suka aku tonton. Itu adalah fiksi tingkat dewa! Hohoho.

Beberapa teman yang baca fiksi yang aku buat seringkali bertanya: “Kok kamu bisa bikin cerita kayak gitu? Idenya dari mana? Kamu biasanya kapan nulis ceritanya?” Berikut ini adalah 5 fakta tentang fiksi yang aku tulis:

1. Idenya dari mana?

Dari mata turun ke hati. Hehe. Kalau aku melihat ada objek yang menarik, biasanya aku fotoin. Dari situ bisa jadi ide untuk menulis cerita. Ide itu sebenarnya bisa datang dari mana saja termasuk dari bawah kolong meja. Tapi… ada satu tempat yang sebenarnya banyak memberikan ide. Tempat itu adalah WC alias toilet!! Aku nggak heran kenapa WC atau toilet dibilang ‘Bilik Merenung‘ oleh saudara kita dari negeri Jiran Ya, bagiku biasanya ide-ide mengalir dengan lancar saat sedang nongkrong di toilet. Oh ya, nongkrongnya nggak sampai berjam-jam, lho! Ntar aku dibilang penunggu toilet pula.

2. Kapan waktu terbaik untuk menulis?

Bisa kapan saja. Biasanya aku nulisnya malam hari setelah selesai urusan beres-beres, makan malam, mandi, sikat gigi, trus bobo pokoknya sebelum tidur. Tapiiii…. Pas lagi menunggu, bisa juga dijadikan waktu untuk menulis fiksi. Yang penting tempatnya tenang, kalaupun nunggunya di resto atau cafe, aku pilih cafe yang nggak terlalu berisik.

3. Genre atau temanya apa?

Tergantung ide yang didapat. Aku suka fiksi yang lucu, yang endingnya nge-twist (tak tertebak). Nggak mudah sih bikin fiksi yang endingnya nge-twist. Tapi kalau berhasil bikin fiksi yang seperti itu rasanya senang banget! Aku juga suka fiksi yang ada pesan moralnya. Misalnya agar jangan keseringan kasih anak main hape, menolong sesama, dan lain-lain. Selain itu, kadang-kadang aku juga bikin cerita tentang cinta. Tapi nggak sering-sering juga bikin cerita tipe ini, soalnya bisa bikin baper. Yang nulis aja baper sendiri, apalagi yang baca. Ya nggak, sih? Trus kalau bikin cerita romantis gitu, suka ada yang usil bilang aku lagi jatuh cintalah, lagi patah hatilah (kalau ceritanya ngenes), ah.. pokoknya gitu-gitulah. Padahal kenyataannya nggak, walaupun terkadang iya juga. Hahaha.

4. Nama-nama tokoh cerita dapatnya dari mana?

Memberi nama tokoh cerita tuh gampang-gampang sulit. Sulitnya, takut terpakai nama teman yang sudah lama banget nggak ketemu. Karena…. kalau pakai nama teman atau orang yang dikenal, nggak enak. Nanti ada yang merasa-dirasa-terasa. Bisa panjang urusannya Sodara-sodara! Jadi, gampangnya tanya sama Mbah Google aja. Mbah kita yang satu ini selalu punya solusi untuk nama yang okey! Nah, kalau nggak mau repot tentukan nama, ya sebut saja tokoh ceritanya sebagai ‘aku’. Atau, bikin fan fiction yang namanya diambil dari tokoh dalam film.

5. Bagaimana caranya supaya bisa bikin fiksi yang bagus?

Banyak berlatih adalah kuncinya. Bisa karena terbiasa. Practice makes perfect! Nggak bisa dipungkiri bahwa semua permulaan adalah bagian tersulit. Aku saja sampai sekarang masih belajar membuat fiksi yang bagus. Masih banyak teman-teman lain yang lebih keren tulisannya. Kalau lagi buntu ide, aku akan memulai kalimat awal fiksiku dengan kata ‘pada suatu hari’. Untuk awalah, nggak usah panjang-panjang ceritanya. Sedikit tapi bermakna lebih baik daripada panjang lebar tapi ngelantur ngalor ngidul nggak jelas.

Nah, itu dia fakta yang perlu kalian ketahui tentang bagaimana aku menulis fiksi. Kalau kalian, biasanya bagaimana menulis fiksi?

* * *

Tulisan ini diikutsertakan dalam BPN 30 Days Blog Challenge yang diadakan oleh Blogger Perempuan Network. Tema hari ke-6: 5 fakta soal diri sendiri.

Advertisements

Spoiler Itu Apa, Sih?

no spoiler

Kemarin saya bikin review buku Carrie. Review tersebut diikutkan dalam Reading Challenge yang diadakan oleh MFF. Salah satu ketentuannya adalah ‘no spoiler.’ Saya tadinya nggak ngerti arti kata itu. Tapi, pede aja nulis review di detik-detik terakhir deadline. Masalah arti kata spoiler nanti saja dicari (baca: malas).

Pagi ini, dapat comment dari mba May di review tersebut. Katanya, di review saya ada spoilernya. Waduh masa iya, sih? Kayak orang kebakaran rambut (secara saya kan cewek, jadi nggak ada jenggot, ya kan?), saya carilah arti kata spoiler itu. Ini hasil pencariannya:

Spoiler adalah tulisan atau keterangan mengenai suatu cerita, yang membeberkan jalan cerita tersebut. Membaca beberan dari suatu cerita dapat menyebabkan berkurangnya kesenangan membaca cerita itu, karena kesenangan membaca sebuah cerita biasanya tergantung kepada dramatisasi atau ketegangan yang ditimbulkan oleh cerita tersebut. (Wikipedia)

Intinya spoiler itu menceritakan seluruh isi buku sampai habis (karena di sini review buku). Dan, menurut aturan resensi buku, menceritakan keseluruhan isi buku itu tidak boleh. Saya dapat artikel tentang resensi ini di lensabuku.com. Ini contohnya:

Yang perlu diingat, jangan spoiler (membocorkan ending buku). Sejatinya tugas kita memekarkan rasa penasaran pembaca. #ResensiBuku

Bukan sebaliknya, kita ‘menguliti’ buku hingga telanjang dalam #ResensiBuku kita. Kasihan penulis bukunya, dong. Hehehe. ~Haya Aliya.

Setelah mengerti saya langsung edit reviewnya. Untunglah ada komentar dari Mba May. Makasih ya Mba sudah mengingatkan. 🙂