Tangan Hitam

Pada suatu hari, di suatu siang yang panas, aku melihat motor yang aneh di parkiran sebuah minimarket. Ada sarung tangan dipasang di stang motor tersebut. Sarung tangannya berwarna hitam. Entah motor siapa itu. Yang pasti pemiliknya pastilah kreatif karena meletakkan sarung tangannya seperti itu.

Kalau motor matic biasanya ada masing-masing satu loker di sisi kiri dan kanannya. Motor biasa tidak punya lokernya. Nah motor yang kulihat itu adalah motor biasa. Tidak ada lokernya. Karena motornya tidak ada lokernya mungkin si pemilik memiliki ide untuk meletakkan sarung tangannya di stang motor saja supaya tidak repot kalau dibawa ke mana-mana. Suatu ide yang brilian, kan?

Aku masuk sebentar ke minimarket untuk membeli makanan kecil dan minuman. Ketika keluar dari minimarket, kulihat pemilik motor aneh tadi sedang duduk di motornya. Alangkah terkejutnya aku saat melihat apa yang dilakukan pemilik motor tersebut. Rupanya tangannya benar-benar diletakkannya di stang motor. Ia memasangkan kembali telapak tangannya beserta sarung tangannya ke pergelangan tangannya. Jadi, yang diletakkan di stang motor itu benar-benar sebuah tangan!!

* * *

Cerita ini hanya fiksi

Advertisements

Perempuan yang Memotong Rambut

“Hei, kamu lagi ngapain?” tanya seorang kakak pada adik perempuannya.

“Potong poni, Kak,” jawab si adik.

“Poni kamu nggak terlalu panjang, kok. Kenapa dipotong?” tanya kakaknya lagi.

“Ya, nggak apa-apa. Menurutku perlu dipotong. Jadi ya potong saja,” jawab si adik.

“Dasar aneh. Bulan lalu potong poni. Dua bulan sebelumnya juga. Sepertinya kamu potong poni setiap bulan ya,” gumam si kakak.

“Kakak ngitung berapa kali aku potong rambut? Kok sampai hapal kapan saja aku potong rambut?” tanya si adik.

“Nggak juga. Tapi kakak rasa kamu terlalu sering potong rambut biarpun cuma sedikit yang dipotong,” jawab si kakak.

“Kamu itu aneh!” lanjut si kakak sambil meninggalkan adiknya yang masih asyik dengan rambut dan gunting.

Si adik perempuan diam saja sambil terus memperhatikan rambutnya, mengira-ngira apakah ada lagi yang perlu dipotong.

Ya… tepat sekali apa yang dikatakan si kakak. Memang si adik perempuan ini sering sekali memotong rambutnya. Sebulan minimal satu kali ia akan memotong rambutnya sendiri. Tidak banyak yang dipotong. Paling hanya beberapa milimeter.

Apakah si adik ini sudah gila? Nggak. Dia normal. Tetapi memang… ia memotong rambut setiap kali ia merasa tertekan atau stress. Dengan memotong sedikit rambutnya, ia merasa penampilannya berbeda. Ia merasa menjadi pribadi yang baru. Hal itu menyebabkan ia menjadi bahagia dan stressnya berkurang.

Apakah si adik perempuan jadi gundul karena rambutnya sering dipotong? Nggak. Karena ia hanya memotong sedikit saja. Tapi… karena itu rambut si adik perempuan tidak pernah panjang. Ia selalu tampil dengan penampilan berambut pendek.

Si adik perempuan bercita-cita jika ia sudah dewasa nanti ia akan mengecat rambutnya dengan warna coklat atau pirang. Tidak ada salahnya kan mengubah penampilan?

Patung yang Dirantai

“Mama, kenapa patung itu dirantai?” tanya seorang anak perempuan pada ibunya saat melihat ada manekin yang dirantai di toserba.

“Sepertinya supaya patungnya tidak jatuh, Dik!” jawab kakak laki-laki anak tersebut.

“Bisa jadi begitu…,” jawab si ibu sambil masih asyik memilih-milih pakaian.

“Aaah, apa benar begitu? Tapi patungnya nggak miring kok!” ujar si anak perempuan yang berusia 7 tahun sambil terus memperhatikan patung.

“Jadi menurutmu karena apa?” tanya kakak laki-lakinya berusia 10 tahun.

“Hmmm… Itu fashion zaman now!” seru si anak perempuan.

“Jawaban standar, ah! Nggak seru!” kata si kakak.

“Jadi gimana jawaban yang seru, Kak?” tanya anak perempuan.

“Sini Kakak bisikin,” jawab si kakak sambil menarik adiknya agar mendekat. Lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga adiknya.

Si anak perempuan melongo sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya terbelalak.

“Supaya patungnya nggak lari kalau malam hari?” bisik si anak perempuan. Namun suaranya terdengar cukup keras hingga membuat ibunya menoleh.

“Hush! Jangan bicara sembarangan! Ayo sudah, berhenti main-mainnya. Kita pergi makan saja, yuk!” ajak ibu kedua anak tersebut.

“Yess! Oke! Oke! Yuk!!” jawab si anak perempuan dan kakak laki-lakinya berbarengan.

* * *

Malam harinya, saat semua karyawan toserba sudah pulang, manager toserba mengendap-endap mendekati manekin yang siang tadi dibicarakan dua anak kecil kreatif.

“Ada-ada saja anak-anak kecil siang tadi… Dapat ide dari mana patung seperti ini bisa hidup?” gumam si Bapak manager sambil mengamati manekin di hadapannya. Si bapak lalu melepaskan rantai yang diikatkan di celana manekin tersebut. Setelah itu ia membetulkan letak tangan kanan patung yang agak miring. Klik!

“Tapi mereka benar….,” gumam si bapak lagi sambil melangkah pergi dari toserba setelah mengunci pintu keluar. Jam sudah menunjukkan pukul 11:50. Si bapak pulang ke rumahnya.

Tepat pukul 12 malam, patung yang dibicarakan kedua anak kecil tadi siang membuka matanya. Ia meregangkan tubuhnya seolah-olah lelah karena berdiri terlalu lama. Senyum terkembang di wajahnya yang putih bagai porselin. Patung tersebut mencolek patung di sebelahnya dengan jari telunjuknya. Patung yang dicolek tersebut kemudian hidup.

Selanjutnya patung pertama berjalan menyusuri lorong-lorong di toserba dan mencolek setiap patung yang dilihatnya. Kesemua patung tersebut hidup karena sentuhan jari telunjuknya.

“Aih, anak-anak tadi siang lucu banget, deh! Kok bisa tahu aku hidup,” ujar patung pertama sambil berjalan kembali ke tempatnya semula. Ia menjentikkan jarinya. “Yo, gaes! Yuk kumpul di sindang! Cepat sedikit jalannya jangan menye lenje!”

Semua patung yang dicoleknya sudah selesai meregangkan tubuh. Mereka bergegas berjalan mendekati si patung pertama.

“Yo semuanya! Kita bereskan tempat ini. Tuh, lihat pakaian-pakaian yang habis diobrak-obrik nyonya khaya, tolong dilipat dan dirapikan yaw! Pokoknya sebelum matahari terbit, semuanya sudah harus rapi dan bersih!” perintah si patung pertama.

Kesemua patung menganggukkan kepala dan bergegas melaksanakan perintah. Si patung pertama mengawasi pekerjaan patung-patung lainnya sambil mengecek keadaan di luar.

“Hei, kamu yang baca ini… Jangan pikir kami patung-patung akan melakukan hal yang jahat, ya! Kami bukan patung yang dirasuki roh jahat, lho! Kami ini… yah, bisa dikatakan mempunyai progaram untuk melaksanakan tugas beres-beres dan bersih-bersih di toserba ini. So, jangan pernah berpikir yang nggak-nggak kalau tidak mau apa yang kalian pikirkan itu jadi kenyataan. Otreee?” kata si patung pertama.

Lomba Makan Kerupuk

Hari ini tanggal 17 Agustus. Di sebuah kompleks perumahan diadakan acara perlombaan untuk memeriahkan Ulang Tahun Negeri Indonesia tercinta. Di tenda konsumsi tampak seorang ibu dengan anaknya sedang mengobrol.

“Hei, Nak, kenapa manyun begitu?” tanya Mama Amanda.

“Amanda lagi kesal, Ma. Masak sudah kelas 11 masih harus ikut lomba makan kerupuk?” jawab Amanda.

“Ya, nggak apa-apa, toh, itu cuma meramaikan saja. Apa salahnya ikut?” kata Mama Amanda.

“Tapi Amanda malu… Huh, kenapa pula ada perlombaan makan kerupuk untuk orang dewasa,” keluh Amanda.

“Ibu-ibu di kompleks kita banyak juga yang ikut lomba makan kerupuk. Jadi kamu nggak usah malu, Nak,” hibur Mama Amanda.

“Iya, sih, Ma. Tapi tetap saja malu. Makan kerupuk yang diikat tali, trus tangan harus diletakkan di punggung, lalu harus makan kerupuk yang diikat tinggi. Kayak dipelonco aja! Eh, bukan… kayak ikan lagi dipancing!” ujar Amanda.

Mama Amanda hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putri satu-satunya. Setelah itu, Amanda menghilang ke dalam kerumunan orang-orang kompleks yang sedang menonton pertandingan. Mama Amanda melanjutkan pekerjaannya sebagai panitia bagian konsumsi.

Tak lama kemudian, lomba makan kerupuk dimulai. Terdengar sorakan para penonton untuk menyemangati peserta lomba.

“Ayo! Ayo! Ayo!” begitu sorakan mereka.

Hanya sebentar saja lomba pun usai. Tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba. Panitia mengumumkan juara lomba makan kerupuk.

“Dan… Juara pertama lomba makan kerupuk kategori umum pada hari ini adalah…..,” MC sengaja memberi jeda.

“AMANDA!!” seru MC.

Amanda maju ke panggung sambil berkata pada dirinya sendiri, “Tuh, kan… makanya aku malu ikut lomba ini. Alasan lainnya karena aku selalu menang. Huft!”

Pulang

Sebentar lagi Lebaran. Semua orang di kantor sibuk membicarakan tentang rencana liburan mereka. Kebanyakan mengatakan akan pulang kampung.

“Yo, Bro! Sudah siap-siap mau mudik?” tanya Rahmad.

“Yeah, begitulah. Ibu bapakku semakin sering menelepon menanyakan kapan pulang,” jawab Ardi.

“Duh, senangnya ya mau pulang kampung… Kalau aku mah bukan pulang kampung, tapi pulang kota. Maklum rumahku di ibukota,” ujar Mutia.

“Yeee, nggak nanya, tuh!” ledek Rahmad.

“Wah, bicara pulang kampung.. Sore ini aku harus ke pasar,” sela Tyo.

“Ngapain ke pasar? Hari gini jalanan macet nggak ketulungan!” kata Sheira.

“Mau beli oleh-oleh. Kalau nggak hari ini, besok-besok sibuk!” jelas Tyo.

“Hey, kalian semua ngobrol apa?” Tiba-tiba Pak Bos masuk ke ruangan.

Segera saja ruangan mendadak hening.

“Kerja yang benar, ya! Jangan kebanyakan ngobrol!” perintah Pak Bos.

“Baik, Pak!” Semua karyawan yang ada di ruangan menjawab berbarengan. Lalu ruangan kembali hening.

Tetapi.. Di antara keheningan dalam ruangan, samar-samar terdengar bunyi tuts papan ketik komputer. Di sudut ruangan, nampak Doni serius menatap komputer sambil mengetik.

“Lihat dia! Itu baru namanya karyawan teladan! Dia sama sekali nggak ikut-ikutan ngobrol seperti kalian!” seru Pak Bos sambil tertawa bangga menatap Doni.

Tiba-tiba Doni berdiri dari kursinya. Sambil membetulkan letak kacamatanya ia berkata, “Anu, Pak. Kalau sudah selesai mengerjakan ini, bolehkah saya izin pulang cepat?”

“Oh, tentu saja boleh! Kamu pasti mau siap-siap mudik, ya?” tanya Pak Bos.

“Ehm.. Bukan, Pak,” jawab Doni.

“Lho? Jadi kenapa? Kamu sakit?” tanya Pak Bos lagi.

“Eh.. iya, Pak. Saya sakit kepala. Semalam begadang nonton. Jadi saya mau cepat pulang biar bisa tidur sebentar. Malam ini mau nonton lagi…”

Belum selesai Doni berkata, Pak Bos menyela, “Apaa?? Sakit kepala? Nonton??”

“I.. iya, Pak. Hari ini episode terakhir film drama di TV. Sayang kalau harus dilewati. Soalnya seru banget! Boleh ya, Pak, saya pulang cepat. Plissss….”

Radio

Ini pertama kalinya aku ditinggal sendirian oleh Ibu dan Bapak. Mereka akan tinggal selama tiga bulan di tempat salah satu keluarga kami. Itu artinya, aku akan hidup layaknya anak kos. Masak sendiri. Makan sendiri. Nyuci sendiri. Beres-beres sendiri.

Ups! Aku lupa, ada si Doggie yang menemaniku. Tapi anjingku yang lucu itu tidur di luar karena Ibu dan Bapak tidak mengizinkannya masuk ke dalam rumah.

Walaupun ada si Doggie, tetap saja di rumah akan terasa sepi. Karena Doggie nggak bisa bicara. Jadi, kuputuskan untuk membeli radio agar aku tidak merasa sepi.

Di hari ketiga aku jadi ‘anak kos’, aku pergi ke pasar dan membeli sebuah radio kecil dari pedagang kaki lima. Harganya 90 ribu. Lumayan mahal bagiku karena aku harus mengatur uang yang diberikan orangtuaku agar cukup untuk hidup selama 3 bulan. Malu rasanya kalau minta mereka mengirimkan uang untukku.

Malam itu sesudah makan, aku menyalakan radio baruku. Kucari frekuensi yang menyediakan lagu-lagu zaman now. Setelah mendapatkan stasiun radio yang oke, aku mendengarkan musik sambil melipat pakaian. Dari melipat pakaian, aku lanjut menyetrika, lalu menyapu. Mendengarkan radio sambil bekerja sungguh menyenangkan.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Aku ke belakang untuk mencuci piring kotor. Radionya kutinggalkan di ruang tamu. Belum selesai mencuci piring, terdengar bunyi kresek-kresek dari radioku. Lalu bunyinya berubah seperti televisi yang tidak ada siarannya. Zzzzzzz…. Selang beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba muncul suara wanita tertawa cekikikan. Dan saat itu juga si Doggie melolong panjang.

Aku ketakutan setengah mati. Segera saja aku berlari ke rumah tetangga di sebelah rumahku.

“Om! Tante! Tolong!” teriakku sambil menerobos masuk ke rumah mereka yang memang pintunya terbuka.

Tetanggaku sekeluarga sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka semua menoleh ke arahku yang sedang terengah-engah. Di saat itulah aku melihat mereka semua sedang menonton film “Kuntilanak” dengan volume televisi yang begitu keras.

Aku pulang dengan perasaan malu. Sampai di rumah kulihat radioku. Ternyata radionya harus dicas karena baterainya habis.

Buku yang Bikin Menangis

Aku punya dua orang kakak. Kakakku yang pertama gemar sekali membaca. Karena kegemarannya itu, tentu saja topik obrolannya nggak jauh-jauh dari buku. Kalau mau menanyakan segala hal tentang buku, tanyakan saja padanya.

“Kak, buku apa yang paling menarik untuk dibaca?”

“Komik dan novel,” jawabnya.

“Kalau buku yang bikin ngantuk pas bacanya ada nggak, Kak?”

“Ada. Buku pelajaran.”

“Yah, Kakak. Nggak boleh begitu, ah!”

“Hahaha.. Bercanda kok,” katanya. “Oh, ya, kamu tahu nggak buku apa yang bikin kamu susah move on?”

“Ih, Kakak, nanya yang aneh-aneh! Buku apa memangnya?”

“Buku sejarah!” jawabnya.

Begitulah kakakku. Selain gemar membaca, dia juga suka bercanda.

Suatu hari, kakak keduaku menikah. Rumah kami ramai dikunjungi tamu. Di saat yang membahagiakan ini, aku melihat kakak pertamaku menangis di pojokan ruang keluarga.

“Kakak kenapa? Terharu, ya?” tanyaku.

“Nggak juga. Buku ini yang bikin aku nangis. Huhuhu…, ” jawabnya sambil terisak.

Kulihat di tangannya ada sebuah buku kecil.

“Buku apa itu? Buku tabungan? Tabungan Kakak habis buat beli hadiah pernikahan makanya Kakak nangis?” tanyaku.

“Bukan…,” jawabnya.

“Jadi… Buku apa yang bisa bikin Kakak sampai menangis kayak gitu?”

“Ini… buku nikah. Aku sedih karena dilangkahi. Lihat buku nikah ini! Adikku sudah punya istri sedangkan aku… pacar aja belum punya! Huaaaa….”