[Cerpen] Mimi

“Kali ini siapa?” tanya Mimi dengan rasa penasaran.

Aku memandangnya pantulan wajahnya dari cermin di hadapanku. Ada guratan-guratan amarah yang nampak di wajahnya. “Orang dari kantor sebelah,” jawabku. Aku tahu, jika Mimi sudah marah, semua akan selesai.

“Beraninya dia mengatakan kamu kuper, tukang marah, kurang ini, kurang itu…. Apa dia nggak ngaca?” omel Mimi.

“Nggak tahu, mungkin kaca di rumahnya pecah,” jawabku dengan asal-asalan.

Mimi mendelikkan matanya. Aku mengerucutkan mulutku. Mimi tahu jawabanku tadi hanya bercanda. Tapi tetap saja dia tidak suka jika tahu ada orang yang ‘jahat’ padaku. Dia akan marah. Biasanya, dia yang ‘mewakiliku’ membuat perhitungan dengan orang-orang yang ‘jahat’ padaku.

Aku tidak bisa mencegahnya. Memang, sih, ada imbasnya terhadapku. Namun, aku merasa sedikit lega karena Mimi telah ‘membalaskan dendam’ untukku. Toh, tidak ada yang bisa kulakukan. Memang seperti itu sifat Mimi. Dan, dia satu-satunya sahabat yang mengerti aku.

“Kamu jangan sedih lagi, ya. Nggak usah nangis lagi,” ujar Mimi memecahkan keheningan.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku. “Jangan yang aneh-aneh!”

“Hmmm…. aku akan mencari cara yang tidak akan membuat reputasimu rusak tentunya,” jawabnya.

Keesokan harinya aku berangkat bekerja seperti biasa. Namun saat siang hari kepalaku sakit. Aku permisi sebentar ke toilet untuk menenangkan diri.

“Kamu nggak apa-apa? Aku akan gantikan pekerjaanmu sebentar,” kudengar suara Mimi.

“Oh, iya, oke. Terima kasih,” jawabku.

Sore hari saat perjalanan pulang di dalam bus, aku mendengar bunyi pesan masuk di ponselku. Aku mengeluarkan ponsel dan melihat pesan yang masuk.

“Maaf ya. Aku nggak akan mengolok-olok kamu lagi. Aku benar-benar menyesal.,” begitu bunyi pesan yang baru aku terima. Dari orang kantor sebelah.

Aku tersenyum. Ini pasti ulah Mimi. Ia membuat orang yang menyakitiku minta maaf dan kapok. Lalu aku memasukkan kembali ponselku ke dalam tas. Sebagai gantinya, aku mengeluarkan wadah bedak.

Aku membuka wadah bedak dan melihat ke cermin. Dari dalam cermin, kulihat pantulan wajah Mimi. Ia tersenyum. “Jangan sedih lagi. Aku sudah membereskan semuanya,” katanya. Aku mengangguk dan membalas senyumnya.

Ya, Mimi adalah sahabatku. Kami berteman sejak aku kecil, sejak ibu dan bapakku bertengkar hebat dan meneriakkan kata cerai. Sejak bapak melempar barang-barang di hadapanku sedangkan ibu sibuk membereskan pakaian-pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper. Aku menangis sendiri di kamar. Saat itulah Mimi muncul untuk menenangkanku.

Sejak saat itu, dialah yang selalu menenangkanku jika aku merasa kacau dan sedih karena ulah orang-orang, karena orang-orang yang menjahatiku. Mimi mendengarkan segala keluh kesahku. Mimi memberiku semangat. Mimi jugalah yang membalaskan rasa sakit hatiku.

Mimi sahabatku. Tak ada orang lain yang bisa seperti Mimi. Tak ada yang bisa menggantikannya. Jadi, tak akan kubiarkan siapa pun menyingkirkannya. Mimi adalah aku dan aku adalah Mimi. Mimi adalah …. kepribadianku yang lain.

* * *

Blog Challenge September hari ke-9. Tema: Persahabatan.

Advertisements

H – 2

Bikin status di WA Story:

Tak lama kemudian, suasana menjadi ramai karena bunyi notifikasi dari hape. Banyak pesan masuk di WA.

Seorang teman kuliah menuliskan, “Wah, 2 hari lagi kita bakal ujian. Huhuhu. Aku belum belajar. Kamu pasti udah ya kan?”

Teman kantor menulis, “Apaan tuh H-2? Bakalan kencan ya? Eciye ciye….”

Rekan dari kantor lain menulis, “Wah, sepertinya mau buka bisnis baru 2 hari lagi, nih?”

Teman SMA yang sudah lama nggak berhubungan tapi nomornya tetap tersimpan di hp menulis, “Kabar baikkah itu? Kamu bakalan merid? Atau tunangan dulu? Jangan lupa undang aku, dong!”

Saudara sepupu menulis, “Apaan, sih? Tumben nulis H-2? Mau berangkat liburan ya?”

Teman dekat menulis, “Sok ah, tulis-tulis status H-2. Paling-paling caper aja!”

Hmmm….

Cuma bikin status H-2 aja pikiran orang sudah bermacam-macam ya. Ujian? Yes. Tapi bukan itu yang aku maksud. Kencan? Oh, no! Mau kencan sama siapa, Jeng? Bisnis? Kerja aja nggak selesai-selesai. Gimana mau buka bisnis? Tapi, mudah-mudahan nanti bisa buka bisnis sendiri. Doakan aja. Merid atau tunangan? Boro-boro merid atau tunangan, pacar aja nggak punya. Nasib! Jalan-jalan liburan? Mau sih tapi sementara jalan ke mall dekat kantor aja dulu deh.

Aku nulis status H-2, tuh, cuma pengen ingetin diri aku aja kalau dua hari lagi adalah Hari Minggu. Artinya libur. Bisa santai di rumah, nonton film, baca novel, makan, tidur, de-el-el. Itu aja sik. Nggak ada maksud lain, kok.

Caper? Hmmm… Iya, sih… hehehe.

Sistem Zo Nasi

Mari bercerita….

1. Di minimarket

Seorang ibu-ibu mampir ke minimarket dekat kantornya sebelum perjalanan pulang ke rumah.

Ibu-ibu : “Mbak, saya beli ini. Berapa total harganya?”
Kasir : “Ibu tinggal di mana?”
Ibu-ibu : “Di km 12. Kenapa memangnya, Mbak?”
Kasir : “Maaf, Bu. Sekarang ada sistem Zo Nasi. Ibu nggak bisa belanja di sini.”
🙄

2. Lowongan Pekerjaan

Ada reunian SMA di sebuah cafe. Setelah basa-basi yang akhirnya basi, obrolan bergeser ke topik lowongan pekerjaan.

A : “Eh, ada lowongan kerja di kantor gue.”
B : “Oh ya? Bagian apa?”
A : “Staf admin. Ada yang mau ngelamar?”
C : “Aku mau. Sudah 3 bulan ngganggur, nih! Syaratnya apa?”
A : “Kamu tinggalnya di mana?”
C : “Di daerah Inu.”
A : “Wah, jauh banget. Syaratnya tempat tinggal harus dekat kantor. Maklumlah sekarang ada sistem Zo Nasi.”
🙄

3. Pacaran, Yuk!

Setelah kurang lebih tiga bulan pedekate, seorang cowok ngajakin gebetannya makan di sebuah resto di mall. Padahal biasanya ngajak ke kantin doang. Iya, dong! Harus ke tempat yang agak wah, gitchuu.. Maklum, mau nembak si gebetan.

Cowok : “Ehm… Dek.”
Cewek : “Apaan, Bang?”
Cowok : “Adek mau nggak jadi pacar Abang?”
Cewek : “Nggak, ah, Bang!”
Cowok : “Lho, kenapa? Kita kan udah dekat.”
Cewek : “Siapa bilang, Bang? Rumah abang jauh banget dari rumahku.”
Cowok : “Trus kenapa? Kan abang bisa naik motor ke rumah adek.”
Cewek : “Maaf, Bang. Sekarang ada sistem Zo Nasi.”
Cowok : “Halah…”

Niat mau nembak, eh malah kena tembak gara-gara sistem Zo Nasi. Hadeuh! Ckckck…

4. Makan

Daripada pusing mikirin sistem Zo Nasi, ayok kita makan Nasi beneran.

Mari makan… 😁

Doppelgänger

“Siang tadi aku melihat seseorang yang wajahnya mirip banget denganku,” kataku pada temanku, Nirmala.

“Beneran mirip? Di mana kamu lihat?” tanya Nir.

“Iya. Mirip banget sampai aku kaget. Ketemunya di parkiran motor saat aku pergi urusan kerjaan tadi siang,” jawabku.

“Wah, kamu bertemu dengan doppelgänger kamu. Keren!”

“Istilah apaan tuh?”

“Itu artinya orang yang wajahnya sama persis dengan kita. Tapi nggak punya hubungan darah.”

“Oh, rupanya begitu….”

“Iyupss! Trus… trus… orang itu kaget nggak lihat kamu?”

“Nggak. Dia malah bilang sesuatu yang aneh.”

“Aneh gimana? Dia ngomong apa?”

“Dia bilang dia datang dari masa depan. Katanya selama masih ada waktu, banyaklah berbuat baik. Kalau merasa ada salah, cepatlah minta maaf. Kalau ada sebuah tugas yang belum dilakukan, cepatlah lakukan.”

“Datang dari masa depan? Memangnya kita ada di dunia Doraemon? Aneh banget.”

“Justru itu… Dan yang lebih aneh, dia bilang waktuku sudah nggak lama lagi. Jadi aku harus cepat melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan.”

“Iihhh… Serem banget!”

“Nah, makanya itu. Karena omongannya seram, aku cepat-cepat pamit dan tinggalin dia. Pas aku putar balik dari tempat parkir, orang itu hilang!”

“Huaaaa!!! Serem banget, sih!! Itu hantu ya??”

“Aku nggak tahu. Pokoknya aku langsung tancap gas.”

“Pengalaman yang aneh. Ya sudah, nggak usah dipikirkan. Sekarang, kerjakan apa yang mau kamu kerjakan.”

“Iya, Nir. Aku mau bikin tugas dulu, ya.”

Beberapa hari kemudian…

Aku sedang mengerjakan tugasku di kamar. Buku-buku bertumpuk di atas meja belajar. Aku menulis jawaban tugas sambil mendengarkan musik. Tiba-tiba… dadaku terasa sesak. Aku kesulitan bernapas. Terbatuk-batuk. Kepalaku pusing dan jantungku berdebar sangat kencang. Pandangn mataku mengabur. Lama-kelamaan menjadi gelap.

Hari Senin, 27 Mei 2019 pukul 23.50, aku dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di ruang ICU. Jenazahku ditutupi kain putih lalu dibawa ke kamar mayat.

Rohku masih berada di ruang ICU. Kemudian nampak cahaya terang benderang. Seorang malaikat menghampiriku.

“Sebelum kami membawamu, kamu harus melaksanakan sebuah tugas,” kata malaikat tersebut.

“Tugas apakah itu, Malaikat?” tanyaku.

“Kembalilah ke beberapa hari yang lalu dan beritahulah dirimu agar banyak berbuat baik dan meminta maaf pada orang-orang yang kau kenal. Katakan pada dirimu bahwa waktunya sudah hampir habis. Pergilah! Laksanakan tugasmu sekarang!”

Malaikat mengayunkan tangannya dan mengirimku ke masa lalu. Aku menyamar menjadi Doppelganger diriku.

Rumah Tua

Rumah itu rumahku. Rumah lama yang sekarang bukan milikku lagi. Ada banyak orang yang pernah tinggal di sana. Ada aku, ibu, bapak, adik, nenek, bibi, paman, mbak-mbakku dan para sepupu, juga beberapa teman yang cuma numpang menginap beberapa hari.

Ada banyak kenangan di sana. Kenangan saat aku masih kecil, saat aku belajar berjalan dengan cara mendorong kursi plastik kecil, saat aku berfoto dan bergaya seperti seorang model, juga kenangan saat aku punya hewan peliharaan untuk pertama kalinya. Kenangan itu… ada yang menyedihkan tetapi ada pula yang menyenangkan.

Aku juga ingat akan nenekku. Beliau sering duduk di dapur kalau sedang makan. Padahal di rumah ada ruang makan. Tetapi beliau merasa lebih nyaman makan di dapur. Nenek juga tak pernah absen memeriksa pintu dan jendela kala malam menjelang. Apakah pintu dan jendela sudah ditutup? Apakah semuanya sudah terkunci? Begitu terus setiap hari.

Aku juga ingat dengan para sepupu yang dulu sering main ke rumah. Kami main sepeda. Kadang main rumah-rumahan. Tak jarang pula main perang-perangan. Pernah, batang bambu dan batang dari daun pisang dijadikan pedang. Dan saat main masak-masakan, batu kerikil dan bunga-bunga dijadikan bumbu dan sayurannya. Seru sekali saat itu.

Hari ini… aku kembali ke rumah ini. Ada banyak orang di sini. Orang-orang yang kukenal dan tak kukenal berkumpul di rumah ini. Ada yang duduk di ruang tamu. Ada yang di ruang makan. Ada pula yang bercengkerama di teras.

“Ah, Rien ada di sini rupanya!” seru seorang sepupu padaku.

Aku menoleh.

“Ayo kita main petak umpet! Sepupu yang lain juga mau bermain,” ajaknya.

“Ayo!” jawabku.

Setelah suit, satu orang bertugas berjaga. Yang lainnya, termasuk aku, berpencar untuk bersembunyi. Hitungan dimulai dan kami semua berlomba mencari tempat persembunyian yang sulit ditemukan.

Rumah ini besar. Ada banyak ruangan di lantai satu. Tetapi di lantai dua hanya ada dua ruangan. Halamannya juga luas. Jadi, ada banyak tempat untuk bersembunyi. Aku memilih bersembunyi di kamar mandi.

Aku tak tahu kenapa aku memilih masuk ke kamar mandi. Seharusnya aku tak masuk ke sana, kan? Kalau ada yang kebelet pipis gimana, kan, ya?

Sambil menunggu, aku duduk di kursi plastik kecil yang ada di kamar mandi. Dari dalam, aku mendengar suara-suara obrolan orang-orang yang ada di rumahku. Mereka sepertinya asyik sekali bercerita. Ada yang tertawa terbahak-bahak. Aku tersenyum.

Namun… suara mereka makin lama makin pudar. Makin lama makin tak terdengar. Kemudian hilang sama sekali.

Hening

Aku menunggu. Beberapa saat. Tapi tak terdengar apa-apa. Tak ada juga yang mencariku. Lalu aku membuka pintu kamar mandi. Keluar dari sana.

Rumah kosong. Sepi. Tak ada perabotan apapun di rumah ini. Ruangannya gelap. Banyak sarang laba-laba dan debu. Suasananya… tidak sama seperti tadi.

Ah, ya… yang tadi hanyalah kenanganku. Kenangan tentang rumah lamaku. Kenangan tentang masa kecilku. Kenangan yang tak akan pernah mati… walaupun aku sudah mati.

Lalu… semuanya memudar. Menghilang dari pandangan. Termasuk tubuh jasmaniku. Sudah saatnya aku pergi.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Ada yang datang, ada yang pergi. Untuk yang pergi, rela nggak rela harus rela. Ikhlas nggak ikhlas harus ikhlas. Apapun yang terjadi, harus bisa menerimanya.

Selamat tinggal rumah tua. Selamat tinggal kenangan…

Berbahagialah di kehidupan selanjutnya. Berbahagialah kalian yang masih bernyawa…

Benda Aneh Mengapung di Bak

Matahari mulai tenggelam. Tanda maghrib telah datang. Aku, Elsa, Tuti, dan Lala berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. Hanya kami berempat yang ada di rumah sore ini. Ayah dan ibu sedang pergi ke rumah nenek, sedangkan kakak kami yang paling tua, Kak Bayu, belum pulang kuliah.

“Kak, aku ke kamar mandi dulu ya,” kata Lala, adik yang paling bungsu.

“Iya. Nggak takut kan sendirian ke belakang?” tanyaku.

“Nggak, kok. Tenang… adek nggak penakut lagi sekarang. Hehehe,” jawab Lala.

Setelah Lala pamit ke belakang, aku dan adik-adikku yang lain kembali menonton. Film kartun ini sangat lucu. Kami tertawa terbahak-bahak. Saat asyik menonton, tiba-tiba terdengar teriakan Lala.

“Aaaagghhh!!!”

“Kenapa itu?” tanya Elsa, si anak ketiga. Ia berdiri dan berlari ke belakang. Aku dan Tuti mengikutinya.

“Lala, kenapa?” tanya Tuti, si anak keempat.

Muka Lala nampak pucat. Dengan tangannya yang gemetaran ia menunjuk ke arah bak mandi.

“Itu, Kak. Ada benda aneh mengapung di bak,” jawab Lala.

Elsa yang pemberani di antara kami semua masuk ke kamar mandi untuk mengecek.

“Hah! Apa itu?” serunya.

“Apa?” tanyaku.

“Sesuatu yang berwarna abu-abu dan agak lonjong. Benda aneh!” jawab Elsa.

Aku mengecek ke kamar mandi. Benar kata adikku. Itu benda aneh. Lalu aku menuju ke dapur tempat ayah menyimpan tongkat dari rotan. Kata ayah, tongkat itu untuk berjaga-jaga kalau ada orang jahat masuk ke rumah. Kuambil tongkat rotan tersebut dan kubawa ke kamar mandi.

“Kak, mau ngapain? Apa kita nggak tunggu Kak Bayu pulang aja?” kata Tuti.

“Tapi aku penasaran dengan benda aneh itu,” kataku.

Aku masuk ke kamar mandi. Lalu, tongkat yang kupegang kuarahkan ke benda aneh yang mengapung itu. Kuketuk-ketukkan benda aneh itu. Lalu aku membalik benda itu.

Ssaaaattt…

“Aaaagghhh!” teriakku.

Ketiga adikku kompak bertanya, “Apa itu?”

“Itu…. tikus!!!” seruku.

“HUUAAAAAA!!!!” Teriak ketiga adikku.

“Tunggu dulu… Tapi tikusnya nggak menyeramkan kok mukanya,” kataku.

“Masa sih?” tanya Elsa.

“Iya. Lihat saja mukanya, imut banget kayak hamster,” jawabku.

“Ah iya, kok bisa ya?” kata Tuti.

“Ayo kita keluarkan dia dari dalam bak,” ajak Lala.

Kami semua pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengeluarkan si tikus dari dalam bak. Karena, tidak ada yang berani memakai gayung untuk mengeluarkannya.

Beberapa menit kemudian kami menyerah. Tidak ada yang bisa dipakai. Tepatnya, kami tidak ingin mengotori peralatan dapur milik ibu. Akhirnya kami kembali ke kamar mandi dan memutuskan untuk memakai gayung saja.

Namun…

“Tikusnya hilang!!!” seru Lala yang tiba duluan di kamar mandi.

Kami bertiga saling berpandangan. Tiba-tiba kami merinding. Apa maksudnya ini???? 😥

***

Tangan Hitam

Pada suatu hari, di suatu siang yang panas, aku melihat motor yang aneh di parkiran sebuah minimarket. Ada sarung tangan dipasang di stang motor tersebut. Sarung tangannya berwarna hitam. Entah motor siapa itu. Yang pasti pemiliknya pastilah kreatif karena meletakkan sarung tangannya seperti itu.

Kalau motor matic biasanya ada masing-masing satu loker di sisi kiri dan kanannya. Motor biasa tidak punya lokernya. Nah motor yang kulihat itu adalah motor biasa. Tidak ada lokernya. Karena motornya tidak ada lokernya mungkin si pemilik memiliki ide untuk meletakkan sarung tangannya di stang motor saja supaya tidak repot kalau dibawa ke mana-mana. Suatu ide yang brilian, kan?

Aku masuk sebentar ke minimarket untuk membeli makanan kecil dan minuman. Ketika keluar dari minimarket, kulihat pemilik motor aneh tadi sedang duduk di motornya. Alangkah terkejutnya aku saat melihat apa yang dilakukan pemilik motor tersebut. Rupanya tangannya benar-benar diletakkannya di stang motor. Ia memasangkan kembali telapak tangannya beserta sarung tangannya ke pergelangan tangannya. Jadi, yang diletakkan di stang motor itu benar-benar sebuah tangan!!

* * *

Cerita ini hanya fiksi