Benda Aneh Mengapung di Bak

Matahari mulai tenggelam. Tanda maghrib telah datang. Aku, Elsa, Tuti, dan Lala berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi. Hanya kami berempat yang ada di rumah sore ini. Ayah dan ibu sedang pergi ke rumah nenek, sedangkan kakak kami yang paling tua, Kak Bayu, belum pulang kuliah.

“Kak, aku ke kamar mandi dulu ya,” kata Lala, adik yang paling bungsu.

“Iya. Nggak takut kan sendirian ke belakang?” tanyaku.

“Nggak, kok. Tenang… adek nggak penakut lagi sekarang. Hehehe,” jawab Lala.

Setelah Lala pamit ke belakang, aku dan adik-adikku yang lain kembali menonton. Film kartun ini sangat lucu. Kami tertawa terbahak-bahak. Saat asyik menonton, tiba-tiba terdengar teriakan Lala.

“Aaaagghhh!!!”

“Kenapa itu?” tanya Elsa, si anak ketiga. Ia berdiri dan berlari ke belakang. Aku dan Tuti mengikutinya.

“Lala, kenapa?” tanya Tuti, si anak keempat.

Muka Lala nampak pucat. Dengan tangannya yang gemetaran ia menunjuk ke arah bak mandi.

“Itu, Kak. Ada benda aneh mengapung di bak,” jawab Lala.

Elsa yang pemberani di antara kami semua masuk ke kamar mandi untuk mengecek.

“Hah! Apa itu?” serunya.

“Apa?” tanyaku.

“Sesuatu yang berwarna abu-abu dan agak lonjong. Benda aneh!” jawab Elsa.

Aku mengecek ke kamar mandi. Benar kata adikku. Itu benda aneh. Lalu aku menuju ke dapur tempat ayah menyimpan tongkat dari rotan. Kata ayah, tongkat itu untuk berjaga-jaga kalau ada orang jahat masuk ke rumah. Kuambil tongkat rotan tersebut dan kubawa ke kamar mandi.

“Kak, mau ngapain? Apa kita nggak tunggu Kak Bayu pulang aja?” kata Tuti.

“Tapi aku penasaran dengan benda aneh itu,” kataku.

Aku masuk ke kamar mandi. Lalu, tongkat yang kupegang kuarahkan ke benda aneh yang mengapung itu. Kuketuk-ketukkan benda aneh itu. Lalu aku membalik benda itu.

Ssaaaattt…

“Aaaagghhh!” teriakku.

Ketiga adikku kompak bertanya, “Apa itu?”

“Itu…. tikus!!!” seruku.

“HUUAAAAAA!!!!” Teriak ketiga adikku.

“Tunggu dulu… Tapi tikusnya nggak menyeramkan kok mukanya,” kataku.

“Masa sih?” tanya Elsa.

“Iya. Lihat saja mukanya, imut banget kayak hamster,” jawabku.

“Ah iya, kok bisa ya?” kata Tuti.

“Ayo kita keluarkan dia dari dalam bak,” ajak Lala.

Kami semua pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk mengeluarkan si tikus dari dalam bak. Karena, tidak ada yang berani memakai gayung untuk mengeluarkannya.

Beberapa menit kemudian kami menyerah. Tidak ada yang bisa dipakai. Tepatnya, kami tidak ingin mengotori peralatan dapur milik ibu. Akhirnya kami kembali ke kamar mandi dan memutuskan untuk memakai gayung saja.

Namun…

“Tikusnya hilang!!!” seru Lala yang tiba duluan di kamar mandi.

Kami bertiga saling berpandangan. Tiba-tiba kami merinding. Apa maksudnya ini???? 😥

***

Advertisements

Sebuah Pilihan

Sumber gambar: dramabean. Film Birth of a Beauty.

Sara mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ada pesan di BBM. Dari Joon.

“Hai, apa kabar? Ketemuan yuk!”

Sesaat Sara menahan napas. ‘Ketemuan? Dia ngajak aku ketemuan? Ada angin apa?’ pikirnya.

“Tumben ngajak ketemuan. Ada apa nih?” balas Sara.

Tak lama Joon membalas, “Pengen aja. Ke tempat biasa kamu nongkrong yuk!”

‘Jadi dia masih ingat tempat nongkrongku?’ Sara bergumam dalam hati.

Ia ingat, dulu ia pernah suka sama Joon. Joon adalah teman SMAnya. Tapi karena di saat itu murid seangkatannya banyak jumlahnya, Sara tidak bisa mengingat satu per satu nama mereka. Hanya teman sekelasnya saja yang ia hapal namanya, ditambah beberapa siswa dari kelas lain yang pernah sekelas dengannya di tahun pertama dan kedua.

Sara tahu Joon dari Annie, sahabat Sara. Annie memberikan nomor PIN BBM Sara pada Joon. Joon dan Sara jadi sering BBMan dan bertemu beberapa kali. Sara suka pada Joon. Tapi kemudian Joon ‘menghilang’. Ia tak pernah lagi mengajak chatting dan bertemu. Sara pun akhirnya mengubur rasa sukanya pada Joon setelah suatu ketika ia melihat Joon mengganti display picturenya dengan foto seorang perempuan.

Sekarang Joon tiba-tiba mengajak bertemu. Sara tentu saja bingung. Ada perasaan galau di hatinya. Ia mengingat masa-masa saat ia masih suka sama Joon. Ia berpikir mungkin masih ada rasa suka pada Joon. Lalu ia membalas pesan Joon.

“Boleh. Kapan dan jam berapa?”

Joon membalas, “Minggu jam 10. Oke?”

“Oke sip!” balas Sara.

* * *

Minggu jam 10. Sara dan Joon bertemu di cafe tempat Sara dan teman-temannya nongkrong. Tapi kali ini hanya dia dan Joon yang bertemu. Teman-teman mereka tidak ikut.

“Kamu nggak sibuk? Nggak pergi sama cewekmu?” tanya Sara pada Joon senatural mungkin supaya tidak disangka kepo. Padahal ia memang ingin mengorek informasi dari cowok yang wajahnya lumayan cakep itu.

“Nggaklah… Kalau sibuk aku nggak mungkin ngajak kamu ketemuan. Lagian aku nggak ada pacar kok. Single nih!” jawab Joon dengan santai.

“Okelah kalau begitu. Mari pesan makanan dulu,” kata Sara.

Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, mereka mengobrol.

“Oh, ya. Kamu ulang tahun, kan, beberapa hari yang lalu. Ini kado buatmu,” kata Joon.

Sara bengong. Tumben cowok tengil ini kasih kado. Biasanya dia cuma ngasih pesan di timeline Facebook saat ulang tahunnya, seperti yang dilakukan Joon beberapa hari yang lalu. Tapi ini… Ada tambahan… Kado?

“Hei, kok bengong? Kalau nggak mau kadonya ya udah! Nanti aku kasih ke panti asuhan saja,” ujar Joon.

“Hah? Panti asuhan? Sejak kapan kamu jadi dermawan gitu? Lagian, baru kali ini kamu kasih kado buatku,” sahut Sara.

“Kebetulan lagi ada rezeki. Kantorku menang tender. Jadi kami semua dapat bonus dari bos,” jelas Joon.

“Oh, aku merasa aneh aja kamu kasih kado. Tapi… Makasih ya, Joon,” kata Sara.

“Sama-sama. Eh, itu makanannya datang. Makan dulu, yuk!” ajak Joon.

Mereka pun makan. Setelah itu Joon mengajak Sara pergi nonton. Sara sangat senang karena bisa pergi bareng dengan Joon. Rasa sukanya muncul kembali. Saat Joon mengantar Sara pulang, Sara bertanya padanya, “Tumben kamu baik hari ini. Ada angin apa, Joon?”

“Aku lagi bingung aja…,” jawab Joon. Ia memang terlihat bingung.

“Bingung kenapa?” tanya Sara.

Joon menghentak-hentakkan sepatunya. Menendang-nendang angin. Kelihatan sekali ia gugup.

“Hmmm…,” katanya. Joon nampak berpikir keras.

“Aku suka sama cewek…,” lanjutnya.

Deg! Jantung Sara berdegup kencang. Cewek? Siapa? Kuharap kamu suka sama aku! Jangan bilang kamu suka cewek lain, Joon!

“Siapa?” tanya Sara.

Joon mengambil ponselnya. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Lalu ditunjukkannya foto seorang perempuan.

“Ini,” katanya sambil menunjukkan foto perempuan berambut panjang. Wajahnya manis. Imut. Bibirnya merah. Matanya sipit. Kulitnya putih mulus.

‘Ah ya, aku tak mungkin bisa menandingi kecantikan cewek itu. Apalah aku? Nggak cantik, nggak putih, nggak mulus. Huft! Wajar kalau Joon memilih cewek itu…,’ pikir Sara. Kecewa.

“Tapi… Aku juga sebenarnya merasa lebih nyaman ngobrol dan jalan dengan cewek yang satu ini,” kata Joon sambil menunjukkan foto orang lain.

Foto Sara!

Sara terkejut. Matanya terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Apa?? Aku??” tanya Sara tak percaya.

“Iya… Makanya aku bingung. Ada dua pilihan. Entah harus bagaimana….,” katanya.

“Oooh… Jadi pilihanmu ada dua. Aku dan cewek putih itu? Ya terserah kamu saja Joon…,” kata Sara. Ia merasa kesal. Sedikit kecewa. Juga marah. Tapi sekaligus senang. Sara merasa aneh. Temannya ini aneh!

“Kalau begitu… Kamu baik-baiklah sama aku, ya? Biar aku lebih milih kamu…,”kata Joon.

“OMG! Joon! Joon! Dasar aneh!” seru Sara.

Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Sore itu, aku dan sahabatku, Nolan, sedang berkumpul di basecamp perkumpulan muda-mudi. Ada teman-teman lain di sana. Ramai. Aku melihat Nolan sibuk. Iya… Sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Temannya juga temanku. Tapi aku tak begitu akrab dengan mereka. Jadi kutinggalkan saja dia dan berjalan menuju jembatan yang berada dekat situ.

Aku baru saja tiba di jembatan itu saat seseorang menarik lenganku dari belakang. Aku menoleh. Nolan rupanya.

“Serena, jangan pergi,” katanya.

“Kenapa?” tanyaku. “Bukankah kamu sedang sibuk mengobrol?”

“Iya… Tapi kalau nggak ada kamu rasanya aneh,” jawabnya.

“Hah?” Aku bingung dengan perkataannya. Ada-ada saja sahabatku ini, pikirku.

“Iya. Soalnya posisi kita sekarang ini seperti ini…,” katanya sambil menggandeng tanganku.

Jantungku berdegup kencang. Gugup. Sekaligus heran dengan tingkahnya. Jujur saja sebenarnya aku sudah lama suka dengan sahabatku ini. Tapi aku tak ingin dia tahu karena aku tak ingin merusak persahabatan kami yang sudah berlangsung selama 7 tahun lebih. Dan sekarang ia mengamit lenganku. Aku merasa aneh sekaligus senang.

“Apa?” tanyaku.

“Pokoknya sekarang kita seperti ini,” katanya. “Kamu jangan pergi ya. Tetap sama aku.”

“Kita….,” aku menghentikan kata-kataku. Mengambil napas. Lalu berbisik, “Pacaran?”

Dia menganggukkan kepalanya.

Pipiku memerah. Tak percaya ini terjadi.

“Ini sudah sore. Ayo ke rumahku. Ada acara di rumahku sebentar lagi. Ingat, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk. Lalu mengikutinya pulang ke rumahnya. Walaupun kami sudah berteman lama, tapi aku baru kali ini ke rumahnya. Biasanya kami hanya bertemu di basecamp. Walaupun begitu, aku sudah kenal dengan papa mamanya. Kedua orangtuanya juga mengenalku. Nolan juga begitu, kenal dengan papa mamaku. Persahabatan kami memang unik.

Setibanya di rumah Nolan aku melihat rumahnya sepi. Nolan mempersilakan aku masuk. Lalu ia pamit untuk mengambil keperluan acara di rumahnya. Aku diminta menunggu sebentar di rumahnya. Ia memperbolehkan aku melihat-lihat keadaan dalam rumahnya.

Setelah Nolan pergi. Aku melihat-lihat keadaan rumahnya. Luas. Banyak ruangnya. Perabotannya antik. Ada lemari-lemari besar. Beberapa sisi ruangan nampak gelap. Tapi rumahnya rapi. Aku merasa aneh berada di rumah Nolan sendirian. Takut ada…. Hantu!

Tak lama kemudian, Nolan pulang bersama papa mamanya. Untunglah mereka cepat tiba. Kalau tidak, aku pasti sudah mikir yang nggak-nggak. Atau mungkin aku akan pingsan nggak jelas.

“Maaf menunggu lama,” kata Nolan sambil meletakkan beberapa kantong plastik di atas meja.

Melihatnya sibuk, aku ikut-ikut sibuk juga. Aku membantunya mengeluarkan barang-barang dari tas belanja.

Selain Nolan dan keluarganya, ada beberapa tamu yang juga tiba bersamaan dengan mereka. Makin lama makin ramai. Mama Nolan nampak panik.

“Serena, tolong bantu Tante, ya,” pinta mama Nolan padaku.

“Iya, Tante,” jawabku.

Setelah itu aku ikut membantu melayani tamu, mempersilakan mereka duduk dan mengedarkan nampan berisi camilan. Beberapa di antara tamu yang datang itu adalah teman SMA Nolan. Mereka cantik-cantik. Aku jadi merasa minder.

Tiba-tiba Nolan menepuk pundakku. “Tidak perlu minder,” katanya seperti tahu apa yang kupikirkan. Ia menggandeng tanganku.

“Ayo, kutunjukkan di mana kamarku,” katanya.

Aku mengikutinya.

“Kamarku ada di tengah-tengah bagian rumah,” katanya sambil menunjuk sebuah ruangan.

Kami masuk ke kamarnya. Di dalam kamar ada sebuah lemari yang tinggi dan besar berwarna coklat tua. Lemari itu nampak sudah tua.

“Ini lemari tua. Dulu pernah ada seorang perempuan mati gantung diri di sini,” katanya.

Aku bergidik mendengarnya.

“Tapi aku nggak pernah mengalami kejadian aneh-aneh, kok,” katanya sambil tertawa.

Aku cemberut. Dia tertawa makin keras. Kemudian aku ikut tertawa juga.

Ah… Kisah ini memang aneh. Nolan dan aku… Jadian. Too good to be true! Walau aku berharap akan jadi kenyataan. Tapi ini cuma mimpi. Aku bangun kesiangan karenanya. Untunglah aku tidak terlambat tiba di sekolah.

Aku, Serena, sang pemimpi. Aku akan terus bermimpi… Sampai mimpiku jadi kenyataan…