Tembakaumu Bukan Tembakauku

Sumber gambar: initu.id

Anak itu.. Sari namanya. Ia baru saja lulus kuliah. Seharusnya di usia segitu ia bisa mencari kerja atau bekerja di tempat yang bagus. Di usianya yang baru dua puluhan, seharusnya adalah masa-masa jayanya, masa mudanya yang berharga.

Tetapi.. takdir berkehendak lain. Sari divonis menderita TB atau tuberculosis. Itu adalah penyakit paru-paru. Orang-orang biasa menyebutnya TBC. Penyakit itu menyebabkan paru-paru menghitam dan kalau sudah parah bisa menyebabkan batuk darah yang dapat mengakibatkan kematian.

Sari tidak merokok. Ayahnya juga tidak. Adik laki-lakinya apa lagi. Di keluarganya tidak ada yang merokok. Tapi ia bisa terkena penyakit itu.

“Kenapa? Kenapa dunia ini tidak adil??” ratap Sari. “Orang-orang yang merokok bisa seenaknya membuang asap mereka ke mana-mana dan mereka aman-aman saja. Tidak sakit. Kenapa harus aku yang terkena penyakit paru-paru itu?”

“Sudahlah, Nak. Jangan sedih. Yang penting sekarang kamu ikuti aturan makan obatnya saja ya. Niscaya kamu akan sembuh dan penyakitnya tidak akan kambuh. Orang yang merokok itu biarlah, doakan mereka supaya cepat sadar. Mungkin saat ini mereka belum merasakan akibatnya. Tapi nanti… tinggal tunggu harinya saja,” hibur suster di rumah sakit.

Akibat sakit yang dideritanya, tubuh Sari menjadi kurus. Wajahnya pucat. Ia tidak napsu makan dan sering batuk-batuk. Ia pun harus menjalani perawatan selama 6 bulan. Selama 6 bulan itu ia harus mengkonsumsi berbagai obat. Obat itu harus diminum sesuai aturan. Salah aturan atau lupa makan obat sedikit saja, penyakitnya bisa balik lagi dan ia bakalan harus menjalani pengobatan dari awal. Sungguh sangat merepotkan.

Setelah dokter bertanya-tanya tentang keseharian Sari, rupanya orang-orang di sekitar Sari adalah perokok. Di sebelah rumahnya ada sebuah gudang kayu. Orang-orang yang bekerja di sana semuanya merokok. Selain itu, Sari terkena asap rokok selama di kampus kuliahnya. Teman-teman sekampusnya rata-rata merokok. Saat di kantin, saat lagi makan, ada orang merokok. Saat pergi dan pulang kuliah, ketemu orang merokok. Akibatnya Sari menjadi perokok pasif. Ia menjadi penghirup asap rokok. Dan itu lebih berbahaya daripada perokok aktif.

Dan di keluarga Sari, bukan Sari saja yang terkena penyakit TB itu. Tapi nenek dan adiknya juga ikut merasakan sakit yang sama, hanya beda waktunya saja. Itu semua akibat dari lingkungan tempat tinggal mereka yang berada di tempat yang banyak perokoknya.

Dokter menyarankan agar Sari menghindari orang-orang yang merokok. Jangan berada di dekat mereka. Sari juga harus memakai masker karena dikhawatirkan penyakitnya bisa menular ke orang lain. Sari juga akhirnya memiliki alat makan sendiri. Sendok, garpu, piring, mangkok, gelas, cangkir, semuanya khusus untuknya, tidak boleh dipinjam atau dipakai orang lain.

Dokter mengatakan untung saja penyakit Sari bisa cepat dideteksi dan tidak terlalu parah. Karena pernah ada pasien yang membiarkan batuknya yang tidak sembuh-sembuh. Pasien tersebut datang ke rumah sakit saat sakitnya sudah parah. Ia muntah darah tanpa henti. Akhirnya ia meninggal.

Sari menjalani pengobatan selama 6 bulan. Setelah dicek rontgen paru-paru, ia diberi lagi obat dan harus tetap makan obat sampai 3 bulan berikutnya. Setelah itu, ia sembuh. Namun, tentu saja bekas flek hitam di paru-parunya tidak bisa hilang sepenuhnya. Sari harus benar-benar menjaga kesehatannya agar penyakit TB itu tidak datang lagi.

***

Sumber gambar: who.int

***

Asap rokok bisa membunuhmu, membunuh keluargamu, orang-orang yang kamu sayangi, juga mereka yang ada di sekitarmu. Stop merokok! Sayangi dirimu, keluargamu, dan teman-temanmu.

Advertisements

Asapmu Membunuhku

Kadang kupikir dunia ini tidak adil. Di saat orang dengan bahagianya menghisap asap rokok, di sisi lain aku terbaring menderita sakit di paru-paruku. “Bronkitis!” begitu vonis dokter saat melihat hasil rontgen paru-paruku. Dan, ini yang kedua kalinya aku mendapat vonis seperti ini. Duniaku serasa jungkir-balik saat mengetahui hal ini. Aku bukan perokok. Namun, asap rokok yang masuk ke dalam paru-paruku membuatku harus menyandang gelar ‘perokok pasif.’

Sungguh tidak adil! Dulu, di saat semua saudara sepupuku pergi liburan ke pantai, aku harus tinggal di rumah karena penyakit ini. Di saat mereka semua bercanda dan bersuka-ria di tepi pantai sambil membuat istana pasir, aku harus meringkuk kesakitan di tempat tidur. Ketika semua anak-anak dengan bahagianya melahap es krim mereka, aku harus bersabar dengan berbagai macam tablet dan kapsul.

Dan ketika aku dewasa, aku harus merelakan jabatan tinggiku yang baru sebulan kudapatkan. “Tuberculosis!” begitu kata dokter waktu itu. Tablet dan kapsul pun kembali menjadi sahabat terbaikku. Selama enam bulan aku menjalani perawatan. Kala itu apa yang dikatakan orang enak terasa hambar bagiku. Nasi ayam rasa hambar, sayur tumis rasa campah, tahu tempe goreng pun ikut-ikutan tak berasa. Dan ketika ada teman yang mengetahui penyakitku, mereka menjaga jarak denganku. Takut tertular penyakit yang sama, begitu anggapan mereka. Telepon tak boleh kugunakan karena takut kuman dari tubuhku lengket di sana. Begitu pula dengan peralatan makan, aku punya peralatan makan sendiri. Sungguh menyedihkan!

Asap! Asap! Itu pengaruh asap! Dokter bilang, jangan dekat-dekat asap. Hindari asap, terutama asap rokok.

Aku berusaha menghindar dari asap rokok. Tapi, banyaknya orang yang merokok di sekelilingku, membuatku tak kuasa untuk menghindari mereka. Berjalan beberapa meter, ada asap rokok. Pergi ke suatu tempat, bertemu asap rokok. Di angkot, di bus, di mal, di restoran, di tempat ibadah, di sekolah, di mana-mana ada asap rokok. Bahkan, ketika berobat ke rumah sakit dan ke tempat praktek dokter pun aku harus menghirup asap rokok! Lalu, bagaimana aku harus menghindarinya?

Mungkin, suatu saat nanti aku akan membuat baju baja, baju seperti Ironman, yang membuat hidung terlindung oleh asap. Atau, akan kubuat entah baju apa pun yang bisa melindungiku dari asap rokok. Atau, aku akan membuat tabung perlindungan, sehingga oksigen yang kuhirup tak tercemar oleh asap.

Rokok! Silakan kalian hisap sebanyak-banyaknya! Silakan puaskan hati kalian! Tak usah pedulikan orang-orang seperti aku. Biarlah keluarga kalian dan orang-orang terdekat kalian bernasib sama seperti aku. Bukankah kalian akan berbahagia jika orang yang kalian sayangi bernasib sama seperti aku?

Rasakan….. Rasakan bagaimana penderitaanku. Asapmu membunuhku. Dan, perlahan-lahan akan membunuhmu juga, perlahan tetapi pasti.