Uang Receh, Bulan Tua, dan Menabung

“Lagi ngapain?” tanya ibuku saat melihatku membuka celenganku.

“Lagi susun uang receh, Bu,” jawabku sambil mengelompokkan uang logam berdasarkan nilainya. Setelah itu aku susun uangnya dalam jumlah seribu. Misalnya uang seratusan berjumlah sepuluh dan uang duaratusan berjumlah lima. Lalu aku beri selotip tumpukan uangnya.

“Buat apa uangnya diselotip gitu?” tanya ibuku lagi.

“Buat bayar parkir kalau jalan ke pasar atau ke mal,” jawabku.

“Kalau kamu nggak ada uang untuk bayar parkir, sini biar ibu kasih kamu uang kecil,” kata ibuku.

“Nggak usah, Bu. Uang recehku ada banyak, kok. Tenang aja,” tolakku.

* * *

Inilah gunanya mengumpulkan uang logam. Nanti kalau sudah banyak bisa untuk parkir. Tapi rupanya nggak semua orang mau memakai uang logam untuk bayar parkir ya. Ada yang khusus menyimpan uang logam sampai bermangkuk-mangkuk nggak tahu mau digunakan buat apa. *lirik saudara di sebelah. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Pernah seorang teman cerita. Dia mengumpulkan uang logam untuk ditukar di minimarket. Katanya kasir minimarket pasti butuh uang logam. Jadi temanku ini pergi ke minimarket dan membayar barang dengan uang logam. Wah, berat dong ya bawa-bawa banyak uang logam. Nggak juga katanya. Kadang dia bawa Rp 45.000 saja. Katanya…

Aku juga pernah baca berita ada orang beli mobil pakai uang receh. Seriusan itu? Aku nggak percaya sih. Kok bisa ya? Tapi ya ada yang sampai begitu. Wah hebat! Berapa tahun ngumpulinnya? Gimana bawa uangnya? Apa orang itu punya gudang uang logam seperti Paman Gober?

Nah trus aku pernah juga baca artikel tentang menabung. Di artikel itu disebutkan menabunglah dari pecahan uang terkecil. Tabunglah uang logammu. Atau, kumpulkan uang dua puluh ribuan. Nanti kalau sudah banyak, bisa digunakan untuk biaya traveling.

Aku sih nggak segitunya menabung uang logam. Nggak niat nabung uang receh untuk travelling atau untuk beli barang mewah. Uang logamku adanya ya secelengan itu aja. Pasti digunakan untuk parkir. Atau untuk beli mi instan. Apalagi di bulan tua seperti ini. Lumayanlah. Hehehe.

Eh tapi menabung uang logam bagus tuh untuk diajarkan ke anak-anak. Biasanya anak kecil suka sekali diiming-imingi sesuatu. Contohnya:

“Kalau adek mau beli mainan Lego, adek harus nabung. Ini Papa kasih uang logam. Ayo masukkan ke celengan, ya!” –> ini yang diajarin ke keponakanku oleh Papanya. Dan karena keponakanku masih kecil, uang yang dikasih selalu uang logam. Lebih seru pas uangnya dimasukkan ke celengan. Cling gitu bunyinya.

Nah, keponakanku tentunya jadi rajin nabung dong, karena kalau uangnya banyak bisa beli mainan. Tentu saja uangnya nggak bakal pernah cukup buat beli mainan karena diambil Papanya untuk ditabung di tempat lain. Menabung itu untuk motivasi aja, sekaligus alasan kalau Papanya nggak mau beliin mainannya. Hahaha.

Anak-anak kecil ini semakin dewasa nanti pola pikirnya bisa berubah. Orangtuanya harus mengarahkan juga. Menabung buat masa depan, bukan buat beli mainan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Advertisements